Definisi Kesiapan Belajar Menurut Ahli

Untuk mencapai tujuan yang maksimal terhadap suatu rencana , diperlukan kesiapan pelaksanaan tujuan tersebut, seperti kesiapan kondisi badan, mental ataupun kesiapan pikiran. Hal yang demikian berlalu untuk semua rencana yang ada dalam kehidupan sehari-hari, tak terlepas rencana yang disiapkan seorang guru untuk melaksanakan proses pembelajaran.

Slameto mengemukakan bahwa kesiapan adalah keseluruhan kondisi seseorang siap menerima respon atas cara yang dilakukan terhadap kondisi yang dialami. Penyesuaian kondisi pada suatu saat akan berpengaruh atau kesiapan adalah kecenderungan untuk memberi respon.[1] Kondisi siswa yang siap dalam menghadapi situasi apapun akan terlihat dari sikapnya dalam memberikan respon terhadap setiap pertanyaan yang diajukan guru.

Menurut Thorndike yang dikutip dalam Slameto kesiapan adalah prasyarat untuk belajar berikutnya.[2]Siswa hendaknya menguasai setiap materi ajar yang telah disampaikan karena memiliki keterkaitan dengan materi selanjutnya. Apabila siswa tidak menguasai materi yang telah disampaikan, maka siswa tersebut akan kesulitan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran selanjutnya. Begitupun sebaliknya, apabila siswa menguasai materi yang telah disampaikan, maka siswa tersebut akan mudah memahami materi ajar secara optimal.

Lebih lanjut Oemar Hamalik mengemukakan bahwa kesiapan adalah keadaan kapasitas yang ada pada diri siswa dalam hubungan dengan tujuan pengajaran tertentu.[3] Keadaan yang siap ditunjukkan dengan kapasitas pengetahuan yang dimiliki siswa dalam memahami materi ajar sesuai dengan tujuan pembelajaran. Tercapainya tujuan pembelajaran tercapai apabila siswa mengikuti kegiatan pembelajaran dengan baik yang didukung oleh kesiapan dirinya dalam menghadapi situasi yang dihadapi.

Menurut Wasty Soemanto ada orang yang mengartikan readiness sebagai kesiapan atau kesediaan seseorang untuk berbuat sesuatu. Menurut seorang ahli bernama Cronbach menyampaikan pengertian tentang readiness sebagai serangkaian sifat atau kekuatan yang  mampu mrubah reaksi sesorang melalui cara tertentu.[4]Kesiapan siswa dilihat dari kemamuannya untuk melakukan sesuatu yang berdasarkan atas dasar kemauan dan kesediaan siswa itu sendiri tanpa ada paksaan maupun perintah dari orang lain. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Syaiful Bahri Djamarahbahwa kesiapan untuk belajar merupakan kondisi diri yang telah dipersiapkan untuk melakukan suatu kegiatan.[5]

Lebih lanjutSlameto memberikan batasan tentang kesiapan sebagai keseluruhankondisi seseorang yang membuatnya siap untuk memberi respon atau jawaban didalam cara tertentu terhadap suatu situasi. Penyesuaian kondisi pada suatu saatakan berpengaruh terhadap pemberian respon.[6]Kesiapan yang dimiliki siswa akan membuatnya mudah menyesuaikan diri dalam kondisi apapun. Situasi yang sulit akan mudah dipahami untuk dicari solusi dan pemecahan masalahnya.

Kondisi tersebut mencakup setidaknyatiga aspek, yaitu:

  1. Kondisi fisik, mental, dan emosional.
  2. Kebutuhan-kebutuhan, motif, dan tujuan.
  3. Keterampilan, pengetahuan, dan pengertian yang lain yang telah dipelajari.[7]

Keadaan fisik, mental dan emosional merupakan aspek yang sangat berpengaruh terhadap tingkat kesiapan siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran yang mampu bertindak secara aktif. Senada dengan pendapat Sumadi Suryabrata bahwa kesiapan sebagai persiapan untuk bertindak (ready to act).[8]Dengan demikian kesiapan merupakan perwujudan dari kematangan baik secara fisik, mental maupun emosional untuk mengikuti kegiatan pembelajaran yang aktif dan mampu menjawab pertanyaan yang diberikan.

Sementara itu mengenai pengertian belajar dapat ditelusuri dari beberapa pendapat. W.S. Winkel berpendapat bahwa belajar pada manusiadirumuskan sebagai suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalaminteraksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahandalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan nilai sikap. Perubahan itubersifat secara relatif, konstan dan berbekas.[9]

Selain itu menurut Cronbach dalamSumadi Suryabrata menyatakan bahwa “learning is shown by achange in behaviour as a result of experience”.[10]Jadi, belajar yang sebaik-baiknya adalah denganmengalami dan dalam menjalani itu si pelajar menggunakan panca inderanya.Sedangkan menurut Nasution kesiapan belajar adalah kondisi-kondisi yang mendahului kegiatan belajar itu sendiri. Tanpa kesiapan atau kesediaan ini, proses belajar tidak akan terjadi.[11] Lebih lanjut Darsono faktor kesiapan, baik fisik maupun psikologis, merupakan kondisi awal suatu kegiatan belajar.[12]

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan pengertian kesiapan belajar adalah kondisi awal suatu kegiatan belajar yang membuatnya siap untuk memberi respon/jawaban yang ada pada diri siswa dalam mencapai tujuan pengajaran tertentu. Kesiapan belajar adalah suatu keadaan siswa yang sudah siap atau sedia untuk melakukan aktivitas dengan penuh kesadaran untuk memperoleh hasil yang berupa perubahan pengetahuan, pemahaman, keterampilan, kebiasaan, nilai, dan sikap dengan cara mengamati, meniru, latihan, menyelidiki, serta masuknya pengalaman baru pada diri siswa.

[1]Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta, 2003, h.113

[2]Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta, 2003, h.114

[3]Oemar Hamalik,Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, Jakarta: Bumi Aksara, 2003, h.41

[4]Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 1998, h.191

[5]Syaiful Bahri Djamarah,Rahasia Sukses Belajar, Jakarta: Rineka Cipta, 2002, h.35

[6]Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta, 2003, h.113

[7]Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta, 2003, h.113

[8]Sumadi Suryabrata,Psikologi Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998, h.232

[9]W.S.Winkel, Psikologi Pengajaran, Jakarta: Grasindo, 1991, h.36

[10]Sumadi Suryabrata,Psikologi Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998, h.23

[11]Nasution S. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar, Jakarta: Bina Aksara, 1995, h.179

[12]Darsono, dkk.Belajar dan Pembelajaran, Semarang: IKIP Semarang Press, 2000, h.27

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!