Indikator Keaktifan Belajar

Indikator Keaktifan Belajar

Keaktifan belajar siswa dapat diketahui dari sikapnya dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Sikap yang antusias dan memiliki kemauan dengan menunjukkan segenap kemampuan yang dimiliki secara optimal. Komunikasi yang terjalin tidak hanya satu arah dari guru ke siswa, tetapi terjadi komunikasi timbal balik diantara seluruh siswa. Menurut Sudjana bahwa indikator keaktifan yang harus dicapai siswa antara lain:

  1. memperhatikan dan mendengarkan penjelasan guru,
  2. menjawab pertanyaan guru,
  3. mengajukan pertanyaan kepada guru dan siswa lain,
  4. mencatat penjelasan guru dan hasil diskusi,
  5. membaca materi,
  6. memberikan pendapat ketika diskusi,
  7. mendengarkan pendapat teman,
  8. memberikan tanggapan,
  9. berlatih menyelesaikan latihan soal,
  10. berani mempresentasikan hasil diskusi,
  11. mampu memecahkan masalah ketika turnamen, dan
  12. berminat mengikuti turnamen.[1]

Dengan adanya indiator keaktifan siswa, seorang guru bisa memantau kinerja belajar siswa. keaktifan siswa tidak selalu disebabkan dari diri siswa itu sendiri, seorang gurupun harus bisa meningkatkan keaktifan belajar siswa.

  1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keaktifan Belajar

Melalui proses pembelajaran, siswa yang memiliki keaktifan yang cukup dapat melatih dan mengembangkan bakat, juga melatih untuk berpikir kritis sehingga mampu memecahakan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, guru dapat membuat perencanaan sistem pembelajaran yang sistematis sehingga mampu meningkatkan keaktifan siswa.

Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran dapat merangsangdan mengembangkan bakat yang dimilikinya,siswa juga dapat berlatihuntuk berpikir kritis. Menurut Gagne dan Brings dalam Martinis Yamin faktor-faktor yang dapat menumbuhkan timbulnya keaktifan siswa dalam proses pembelajaran yaitu:

  1. Memberikan motivasi atau menarik perhatian siswa, sehingga mereka berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran.
  2. Menjelaskan tujuan instruksional (kemampuan dasar kepada siswa).
  3. Memberikan stimulus (masalah, topik, dan konsep yang akan dipelajari).
  4. Memberi petunjuk siswa cara mempelajarinya.
  5. Memunculkan aktifitas, partisifasi siswa dalam kegiatan pembelajaran.
  6. Memberi umpan balik (feedback).
  7. Melakukan kredit kepada siswa seperti tes, untuk meningkatkan kemampuan siswa selalu dipantau.
  8. Menyimpulkan setiap materi yang akan disampaikan diakhir pembelajaran.[2]

Keaktifan belajar siswsa dipengaruhi oleh banyakfaktoryaitu dengan memberikan motivasi atau menarik perhatian siswa, sehingga siswa berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran.Guru menjelaskan tujuan instruksional sebagai kemampuan dasar yang harus dikuasai kepada siswa.Guru memberikan stimulus berupa masalah, topik, dan konsep yang akan dipelajari.Guru memberikan petunjuk kepada siswa cara mempelajari untuk memunculkan aktifitas, partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran.Guru memberikan umpan balik dengan melakukan tagihan-tagihan kepada siswa berupa tes sehingga kemampuan siswa selalu terpantau dan terukur. Gurumenyimpulkan setiap materi yang disampaikan diakhir pembelajaran.

Keaktifan dapat ditingkatkan dan diperbaiki dalam keterlibatan siswa pada saat belajar.Hal tersebut seperti dijelaskan oleh Moh. Uzer Usman cara untuk memperbaiki keterlibatan siswa diantaranya yaitu meluangkan waktu yang lebih banyak untuk proses pembelajaran, juga berikan proses pengajaran yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran tersebut. Selain memperbaiki keikutsertaan siswa juga dipaparkan bagaimana cara untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam proses belajar. Salah satu cara yang dapat diambil adalah mengenali dan memberikan bantuan anak-anak yang kurang terlibat dan menyelidiki bebrapa penyebabnya sehingga mampu merencanakan tindakan yang lebih baik untuk mengatasinya, sesuaikan pengajaran dengan kebutuhan-kebutuhan. Hal ini perlu dipertimbangkan agar dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk berpikir aktid dalam belajar.[3]

Hubungan timbal balik antar warga kelas yang harmonis dapat merangsang terwujudnya masyarakat kelas yang gemar belajar.Dengan demikian, upaya mengaktifkan siswa belajar dapat dilakukan dengan mengupayakan timbulnya interaksi yang harmonis antar warga di dalam kelas. Interaksi ini akan terjadi bila setiap warga kelas melihat dan merasakan bahwa kegiatan belajar tersebut sebagai sarana memenuhi kebutuhannya.

Menurut Taksonomi Bloom karakteristik manusia meliputi cara yang tipikal dari berpikir, berbuat, dan perasaan. Tipikal berpikir berkaitan dengan ranah kognitif, tipikal berbuat berkaitan dengan ranah psikomotor, dan tipikal perasaan berkaitan dengan ranah afektif.Berdasarkan taksonomi Bloom tersebut untuk mengetahui keaktifan siswa dalam pembelajaran dikelas dapat dilihat dari aspek afektif karena dalam ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, atau nilai. Deskripsi tujuan-tujuan afektif yang merupakan bagian dari taksonomi Bloom, dan pertama-tama dikembangkan Sudjanaadalah sebagai berikut: menerima (receiving), merespon (responding), menilai (valuing), dan mengorganisasi (organization).[4]

Empat tahapan aspek afektif diatas merupakan langkah-langkahyang dapat digunakan untuk mengukur sikap siswa dalampembelajaran.Pertama, menerima merupakan kesediaan untuk menyadariadanya suatu fenomena di lingkungannya.Dalam pengajaranbentuknya berupa mendapatkan perhatian, mempertahankan, danmengarahkan.Kedua, merespon adalah memberikan reaksi terhadap fenomenayang ada di lingkungannya.Meliputi persetujuan, kesediaan, dankepuasan dalam memberikan tanggapan.Ketiga, menilai berkaitan dengan harga atau nilai yangditerapkan pada suatu objek, fenomena, atau tingkah laku.Penilaianberdasar pada internalisasi dari serangkaian nilai tertentu yangdiekspresikan ke dalam tingkah laku.Keempat, mengorganisasi adalah memadukan nilai-nilai yangberbeda, menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk suatusistem nilai yang konsisten.Dari penjelasan keempat bagian ranah afektif maka dapatdisimpulkan bahwa ranah afektif digunakan untuk mengukur sikapsiswa dalam proses pembelajaran. Dalam penelitian ini ranah afektifdigunakan sebagai dasar pengukuran keaktifan siswa dikelas dalampembelajaran.

Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan berbagai faktor seperti memberikan motivasi kepada siswa dan cara untuk meningkatkan keaktifan adalah dengan mengenai keadaan diri siswa dalam proses pembelajaran.

[1]Sudjana, N.PenilaianHasil Proses BelajarMengajar, Bandung: PT RemajaRosdakarya, 2010, h.87

[2]Martinis Yamin, Paradigma Pendidikan Konstruktivistik, Jakarta: GP Press, 2008, h.84

[3]Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011, h.26

[4]Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru, 1991, h.78

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!