Prinsip dan Aspek Kesiapan Belajar Menurut Ahli

Prinip-prinsip Kesiapan Belajar

Pada prinsifnya kesiapan belajar meliputi kesiapan siswa secara keseluruhan dengan segenap kemampuan yang telah dikuasainya. Keadaan fisik, mental dan emosional berkaitan erat dengan pengalaman yang dimiliki siswa. Slameto mengemukakan beberapa prinsip kesiapan meliputi:

  1. Semua aspek perkembangan berinteraksi (saling pengaruhmempengaruhi).
  2. Kematangan jasmani dan rohani adalah perlu untukmemperoleh manfaat dari pengalaman.
  3. Pengalaman-pengalaman mempunyai pengaruh yang positifterhadap kesiapan.
  4. Kesiapan dasar untuk kegiatan tertentu terbentuk dalam periodetertentu selama masa pembentukan dalam masa perkembangan.[1]

Aspek-aspek yang berkaitan dengan perkembangan siswa saling mempengaruhi, diantaranya kematangan jasmani dan rohani dengan pengalaman-pengalaman pada periode tertentu selama masa pembentukan. Oleh karena itu, kesiapan belajar tidak akan optimal apabila salah satu aspek ataupun semua aspek tidak dalam keadaan siap. Wasty Soemanto menambahkan prinsip bagi perkembanganreadiness meliputi:

  1. Semua aspek pertumbuhan berinteraksi dan bersamamembentuk readiness.
  2. Pengalaman seseorang ikut mempengaruhi pertumbuhanfisiologis individu.
  3. Pengalaman mempunyai efek kumulatif dalam perkembangan fungsi-fungsi kepribadian individu, baik yang jasmaniahmaupun yang rohaniah.
  4. Apabila readiness untuk melaksanakan kegiatan tertentuterbentuk pada diri seseorang, maka saat-saat tertentu dalamkehidupan seseorang merupakan masa formatif bagiperkembangan pribadinya.[2]

Dengan demikian, seluruh aspek pertumbuhan dan perkembangan secara bersamaan dalam proses pembentukkan kesiapan belajar. Pengalaman yang telah dimiliki akan mempengaruhi keadaan fisiologis yang efeknya secara kumulatif dalam proses perkembangan akhlak dan kepribadian baik secara jasmani maupun rohani. Kesiapan siswa untuk melaksanakan kegiatan terbentuk pada diri siswa itu sendiri, maka saat-saat tertentu dalamkehidupan siswa merupakan masa formatif bagiperkembangannya

Aspek-aspek Kesiapan Belajar

Kesiapan belajar siswa memiliki tingkatan yang berbeda-beda tergantung dari keadaan fisik, mental dan emosionalnya. Keadaan fisik mempengaruhi tingkat kematangan dan berpikir dan berperilaku. Usia juga merupakan aspek yang membedakan tingkat kematangan siswa. Slameto mengemukakan aspek-aspekkesiapan belajar adalah sebagai berikut:

  • Kematangan (maturation), kematangan adalah proses yang menimbulkan perubahan tingkahlaku sebagai akibat dari pertumbuhan dan perkembangan.
  • Kecerdasan, di sini hanya dibahas perkembangan kecerdasan menurut Slametoperkembangan kecerdasan adalah sebagai berikut Sensori motor period (0 – 2 tahun)

Anak banyak bereaksi reflek, reflek tersebut belumterkoordinasikan. Terjadi perkembangan perbuatan sensorimotor dari yang sederhana ke yang relatif lebih kompleks.

  1. Preoperationalperiod (2 – 7 tahun)

Anak mulai mempelajari nama-nama dari obyek yang samadengan apa yang dipelajari orang dewasa.

  1. Concrete operation (7 – 11 tahun)

Anak-anak anak akan berpikir lebih awal mengenai akibat ynag mungkin akan terjadi dari perbuatannya, ia tidak akan berhati-hari saat melakukan kesalahan (trial and error)

  1. Formal operation (lebih dari 11 tahun)

Kecakapan anak tidak lagi terbatas pada obyek-obyek yangkonkret serta dapat memandang kemungkinan-kemungkinan yangada melalui pemikirannya (dapat memikirkankemungkinan-kemungkinan),dapat mengorganisasikan situasi/masalah, dapat berfikir dengan benar (adalah logis,mengerti hubungan sebab akibat, berpikir ilmiah).[3]

Kesiapan belajar siswa ditentukan dari beberapa aspek dan tahapan-tahapan perkembangan siswa. Kesiapan belajar siswa yang berdasarkan pada kematangan sebagai akibat dari pertumbuhan dan perkembangan akan ditunjukkan dengan perubahan tingkah laku. Kesiapan belajar pada aspek kecerdasan dilihat pada perkembangan usia. Tiap jenjang perkembangan usia siswa memiliki tingkat kesiapan belajar yang berbeda-beda. Siswa akan memiliki kesiapan belajar optimal yaitu pada tahap concrete operation (7 – 11 tahun), di mana siswa mulai belajar dari kesalahan. Kesalahan yang mereka lakukan akan dijadikan sebagai proses belajar. Pada tahap formal operation, siswa sudah memiliki kesiapan belajar karena sudah dapat berpikir logis dan ilmiah dalam menghadapi dan memecahkan masalah.

[1]Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta, 2003, h.113

[2]Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta, 1998, h.192

[3]Slameto,Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta, 2003, h.115

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!