Discovery Learning Menurut Ahli

Asal kata Discovery adalah discovery memiliki arti menemukan sehingga kata Discovery berarti penemuan.[1]Oleh karena itu metode Discovery learning disebut juga metode Penemuan.  Sehingga Discovery learning dapat pula disebut metode penemuan.  Discovery learning merupakan model instruksional kognitif yang dikembangkan oleh Jerome Brunner, menurut Brynner, Discovery learning adalah belajar menemukan sendiri melalui prinsip belajar induktif, atau menemukan hal khusus menjadi umum[2]

Menurut Suprihadi Saputro, dkk metode Penemuan adalah suatu metode dimana pada proses pembelajaran guru memperkenankan murid-muridnya menemukan sendiri infomasi yang secara tradisional biasa diberitahukan atau diceramahkan saja.[3]Menurut Muhibbin Syahmetode Discovery merupakan metode mengajar yang mengembangkan cara berpikir ilmiah. Metode ini menempatkan siswa banyak  belajar sendiri dan kreatif. Siswa betul-betul  ditempatkan sebagai pembelajar.[4]

Sedangkan menurut Ruseffendi metode Penemuan adalah metode mengajar yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga siswa mendapatkan pengetahuan yang belum pernah diketahuinya.[5]Menurut Junaedi, dkk  Discovery atau penemuan adalah proses mental yang memiliki ciri peserta didik dapat mengasimilasi suatu konsep atau prinsip. Proses mental itu misalnya mengamati, menjelaskan, mengelompokkan dan membuat kesimpulan.[6]

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka metode Discovery Learning adalah suatu metode mengajar dimana pada proses pembelajaran guru memperkenankan murid-muridnya menemukan sendiri, mengembangkan cara berpikir ilmiah, mengasimilasi suatu konsep atau prinsip dan menempatkan siswa banyak belajar kreatif.

  1. Karakteristik Discovery Learning

Konsep dasar metode Discovery Learning[7]:

  • Ditinjau dari segi siswa yan belajar:
  1. Terjadinya proses mental yang tinggi dari siswa, sebab dengan aktivitas ini siswa :
    • Mengasimilasi konsep
    • Mengasimilasi prinsip
  2. Problem solving
  3. Self learning activities
  4. Tanggung jawab sendiri
  • Ditinjau dari segi guru yang mengajar :
  1. Guru sebagai diagnosa, yang berusaha mengetahui :
  • Kebutuhan siswa
  • Kesiapan siswa
  1. Guru sebagai fasilitator :
  • Menyiapkan tugas atau problem yang akan dipecahkan oleh para siswa
  • Memberikan klarifikasi-klarifikasi
  • Menyiapkan setting kelas
  • Menyiapkan alat-alat dan fasilitas belajar yang diperlukan
  • Memberikan kesempatan pelaksanaan
  • Sumber informasi, jika diperlukan oleh siswa
  • Membantu siswa agar dapat sendiri merumuskan kesimpulan dan implikasi-implikasinya
  1. Guru sebagai dinamisator :
  • Merangsang terjadinya self analysis
  • Merangsang terjadinya interaksi
  • Memuji, membesarkan hati siswa untuk lebih bergairah dalam kegiatan-kegiatannya.

Tahap-tahap penerapan dalam Discovery Learning adalah sebagai berikut:[8]

  • Stimulus (pemberian perangsang / stimuli)

Stimulus dalam hal ini adalah memberikan pertanyaan yang dapat merangsang berpikir siswa, memotivasi siswa untuk gemar membaca buku dan aktivitas belajar lainnya yang dianggap dapat mengarahkan siswa kepada persiapan pemecahan masalah.

  • Problem statement (mengidentifikasi masalah)

Merupakan kesempatan siswa untuk meneliti sebanyak mungkin mengenai masalah relevan terkait pembelajaran kemudian merumuskannya ke sebuah hipotesis (jawaban sementara)

  • Data collection (pengumpulan data)

Aktivitas siswa untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhka untuk menjawab persoalan dengan benar melalui hipotesis yang telah ditentukan pada proses sebelumnya.

  • Data processing (pengolahan data)

Adalah mengolah atau menghitung data atau informasi yang sudah ditemukan yang kemudian direpresentasikan.

  • Verification

Melakukan pemeriksaan dengan teliti agar kebenaran dari hipotesis dapat dibuktikan dengan cara hubungan pengolahan data yang sudah ada.

  • Generalization

Membuat kesimpulan untuk kemudian dijadikan sebagai definisi atau prinsip umum untuk semua kejadian yang hampir mirip dengan mempertimbangkan hasil verifikasi.

[1]Abu Ahmadi, dkk. 1997. Strategi Belajar Mengajar.Bandung: Pustaka Setia, hal. 76

[2] Junaedi, dkk. 2008. Strategi Pembelajaran. Surabaya: LAPIS PGMI, hal. 3-11

[3] Suprihadi Saputro, dkk. 2000. Model-model Pembelajaran. Jakarta: Rineka cipta, hal. 196

[4] Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan suatu Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya, hal. 28

[5] Ruseffendi, E. Tb. 2006. Pengantar Kepada Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito, hal. 329

[6] Junaedi, dkk dkk. 2008. Strategi Pembelajaran. Surabaya: LAPIS PGMI.

[7] Suryobroto. 1986. Mengenal Metode Pengajaran di Sekolah dan Pendekatan Baru dalam Proses Belajar Mengajar. Yogyakarta: Amarta Buku.

[8] Maylanny Cristine. 2009.  Pedagogi: Strategi dan Teknk Mengajar dengan Berkesan. Bandung: PT Setia Purna Inves, hal. 3.19

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!