Model Pembelajaran Kooperatif STAD

Model pembelajaran dijadikan sebagai pedoman dalam kegiatan belajar mengajar yang mengandung misi dan tujuan pendidikan tertentu. Model pembelajaran adalah sebuah sistem proses pembelajaran yang utuh dari awal hingga akhir (Chatib, 2013: 128). Joyce & Weil (Rusman, 2013: 133) berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pemebelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain. Model pembelajaran tersebut dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya. Rusman (2013: 133) juga menambahkan bahwa ada beberapa hal yang harus menjadi dasar pertimbangan dalam memilih model pembelajaran yang akan digunakan. Beberapa pertimbangan tersebut antara lain, yaitu:

  1. Pertimbangan terhadap tujuan yang hendak dicapai.
  2. Pertimbangan yang berhubungan dengan bahan atau materi pembelajaran.
  3. Pertimbangan dari sudut peserta didik atau siswa.
  4. Pertimbangan lainnya yang bersifat nonteknis.

Menurut Solihatin (2012: 102) cooperatif learning diartikan sebagai suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih di mana keberhasilan dipengaruhi oleh setiap anggota kelompok itu sendiri. Hal senada juga diungkapkan Nurulhayati (Rusman, 2013: 203) pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi. Sedangkan menurut Sanjaya (2008: 241) model pembelajaran kooperatif adalah serangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Dari beberapa pendapat tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan guru di sekolah yang mengandung unsur kerjasama antara siswa dalam kelas dalam melakukan kerja kelompok.

Model pembelajaran kooperatif banyak digunakan dalam kegiatan pendidikan. Hal ini sesuai dengan penelitian Slavin yang dijelaskan oleh Rusman (2013: 205), bahwa pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan mampu memenuhi kebutuhan siswa dalam berpikir kritis serta memecahkan masalah. Melalui pembelajaran kooperatif siswa dapat dapat meningkatkan kemampuannya dalam memecahkan permasalahan dalam pembelajaran, karena setiap siswa dapat bekerja sama dengan siswa lain dalam menemukan alternatif pemecahan permasalahan pada materi yang sedang dihadapi. Dalam pembelajaran seperti ini suasana pembelajaran berlangsung dengan terbuka dan saling percaya, sehingga memungkinkan setiap siswa untuk mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang ingin dikuasai dalam pembelajaran. Oleh karena itu pembelajaran kooperatif diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran.

Model pembelajaran kooperatif memiliki beberapa tipe. Dalam bukunya yang berjudul Model-model Pembelajaran, Rusman (2013: 213) menyebutkan ada enam macam tipe atau variasi jenis pembelajaran kooperatif, walaupun prinsip dasar dari pembelajaran kooperatif ini tidak berubah, jenis-jenis model tersebut adalah STAD (Student Teams Achievement Division), Jigsaw, Investigasi Kelompok (Group Investigation), Make a Match (Membuat Pasangan), TGT (Teams Games Tournaments), dan tipe Struktural.

Dalam model kooperatif terdapat tipe STAD. Model ini dikembangkan oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin (Rusman, 2013: 213). Dalam Febrina & Isroah (2012: 120) Slavin mengatakan bahwa STAD merupakan salah satu metode pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan model yang paling baik untuk permulaan bagi para guru yang baru menggunakan pendekatan kooperatif.

Trianto (2011: 68) mengungkapkan bahwa STAD  merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota kelompok 4-5 orang, dan setiap kelompok harus heterogen. Sedangkan menurut Slavin (Sutanti, 2012: 2) pembelajaran model kooperatif STAD adalah salah satu model pembelajaran kooperatif yang membimbing siswa untuk melakukan sebuah diskusi nyaman dan menyenangkan dalam sebuah pembelajaran yang dimulai dengan  pengarahan, pembentukan kelompok heterogen (4-5orang), kemudian siswa diberi kuis individual atau kelompok yang skor perkembangannya akan menentukan kelompok mana yang berhak menerima penghargaan atau reward.

Jadi pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu guru memberikan suatu materi, sementara siswa yang tergabung dalam kelompoknya mengerjakan tugas yang telah diberikan guru serta memecahkan permasalahan secara bersama-sama dengan cara saling mengungkapkan pendapatnya sehingga ditemukan pemecahan permasalahan matematika tersebut. Dalam kerja kelompok tersebut juga setiap siswa yang lebih memahami materi yang tengah dibahas harus membantu siswa lain agar semua anggota kelompok dapat mengerti konsep apa saja yang terkandung di dalamnya. Secara berkala masing-masing siswa secara individual akan diberi kuis. Rata-rata dari perkembangan nilai individual tersebut akan dijadikan sebagai nilai kelompok, sehingga kemampuan masing-masing anggota akan berpengaruh terhadap nilai kelompoknya.

Menurut Widyantini (2008: 7) langkah-langkah dalam proses pembelajaran kooperatif STAD adalah sebagai berikut:

  1. Guru menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan Guru dapat menggunakan berbagai pilihan dalam menyampaikan materi pembelajaran ini kepada siswa. Misal, antara lain dengan metode penemuan terbimbing atau metode ceramah. Langkah ini tidak harus dilakukan dalam satu kali pertemuan, tetapi dapat lebih dari satu.
  2. Guru memberikan   tes/kuis  kepada   setiap  siswa  secara  individu sehingga akan  diperoleh nilai awal kemampuan
  3. Guru membentuk beberapa Setiap kelompok terdiri dari 4-5 anggota, dimana anggota kelompok mempunyai kemampuan akademik  yang  berbeda-beda  (tinggi, sedang,  dan  rendah).   Jika mungkin, anggota kelompok berasal dari budaya atau suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender.
  4. Guru memberikan tugas kepada  kelompok berkaitan dengan materi yang telah diberikan, mendiskusikannya secara bersama-sama,  saling membantu antaranggota  lain, serta membahas  jawaban  tugas yang diberikan Tujuan utamanya  adalah memastikan  bahwa  setiap kelompok  dapat  menguasai  konsep dan materi. Bahan tugas untuk kelompok dipersiapkan oleh guru agar   kompetensi dasar yang diharapkan  dapat dicapai.
  5. Guru memberikan tes/kuis kepada setiap siswa secara individu
  6. Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarahkan, dan   memberikan  penegasan  pada  materi pembelajaran yang telah
  7. Guru memberi    penghargaan    kepada    kelompok    berdasarkan perolehan  nilai peningkatan hasil belajar individual dari nilai awal ke nilai kuis

Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa dalam penggunaan model kooperatif STAD kelompok yang memperoleh rata-rata skor perkembangan tertinggi akan mendapatkan penghargaan. Tahapan pertama dalam menghitung skor perkembangan adalah dengan menghitung skor perkembangan individu. Skor perkembangan tersebut dapat dihitung berdasarkan pendapat Slavin (Rusman, 2013: 216). Perhitungan skor individu dihitung sebagaimana dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 2.1 Perhitungan Perkembangan Skor Individu

No. Nilai Tes Skor Perkembangan
1.

2.

3.

4.

5.

Lebih dari 10 poin di bawah skor dasar

10 sampai 1 poin di bawah skor dasar

Skor 0 sampai 10 poin di atas skor dasar

Lebih dari 10 poin di atas skor standar

Pekerjaan sempurna (tanpa memperhatikan skor dasar)

0 poin

10 poin

20 poin

30 poin

30 poin

Tahapan kedua adalah menghitung skor kelompok. Skor kelompok dihitung dengan membuat rata-rata skor perkembangan anggota kelompok, yaitu dengan menjumlahkan semua skor perkembangan individu anggota kelompok dan membaginya sejumlah anggota kelompok tersebut. Sesuai dengan rata-rata skor perkembangan kelompok, diperoleh skor kelompok sebagaiman dalam tabel berikut:

Tabel 2.2 Perhitungan Perkembangan Skor Kelompok

Rata-rata Skor Kualifikasi
0 ≤ N ≤ 5

6 ≤ N ≤ 15

16 ≤ N ≤ 20

21 ≤ N ≤ 30

Tim yang baik (Good Team)

Tim yang baik sekali (Great Team)

Tim yang istimewa (Super Team)

Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe STAD menurut Roestiyah (2001: 17) , yaitu:

  1. Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan keterampilan bertanya dan membahas suatu masalah.
  2. Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih intensif mengadakan penyelidikan mengenai suatu masalah.
  3. Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan keterampilan berdiskusi.
  4. Para siswa lebih aktif bergabung dalam pelajaran mereka dan mereka lebih aktif dalam diskusi.
  5. Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan rasa menghargai, menghormati pribadi temannya, dan menghargai pendapat orang lain.

Selain keunggulan tersebut pembelajaran kooperatif tipe STAD juga memiliki kekurangan-kekurangan, menurut Dess (1991: 411) diantaranya sebagai berikut:

  1. Membutuhkan waktu yang lebih lama untuk siswa sehingga sulit mencapai target kurikulum.
  2. Membutuhkan waktu yang lebih lama untuk guru sehingga pada umumnya guru tidak mau menggunakan pembelajaran kooperatif.
  3. Membutuhkan kemampuan khusus guru sehingga tidak semua guru dapat melakukan pembelajaran kooperatif.
  4. Menuntut sifat tertentu dari siswa, misalnya sifat suka bekerja sama.

Berdasarkan pemaparan di atas dapat dijabarkan beberapa indikator dari model kooperatif STAD, yaitu:

  1. Siswa bersemangat dalam belajar
  2. Siswa lebih termotivasi untuk memperoleh nilai yang bagus
  3. Setiap kelompok berkompetisi untuk menjadi yang terbaik
  4. Siswa lebih berani mengungkapkan pendapat
  5. Siswa berani bertanya tentang materi yang belum dipahami
  6. Siswa dapat belajar dari berbagai sumber
  7. Siswa beranggapan bahwa matematika bukan pelajaran yang sulit
  8. Siswa lebih antusias dalam proses pembelajaran
  9. Prestasi belajar siswa meningkat
  10. Suasana kelas kondusif
  11. Siswa tidak jenuh mengikuti pembelajaran
  12. Siswa dapat saling membantu memahami materi

 

Referensi

Chatib, Munif. 2013. Gurunya Manusia: Menjadikan Semua Anak Istimewa dan Semua Anak Juara. Bandung: Kaifa.

Dees, Robert L. 1991. Journal for Research in Mathematics Education. “The Role of Cooperative Learning in Increasing Problem Solving Ability in a College Remedial Course”.

Rusman. 2013. Model-model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajawali Pers.

Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Solihatin, Etin. 2012. Strategi Pembelajaran PPKn. Jakarta: Bumi Aksara

Sutanti, dkk. “Peningkatan Pemahaman Konsep Luas Bangun Datar Melalui Model Pembelajaran Kooperatif STAD”. Surakarta: Universitas Sebelas Maret, 2012

Widyantini. 2008. Penerapan Pendekatan Koperatif STAD dalam Pembelajaran Matematika SMP. Yogyakarta: PPPPTK Matematika.

Roestiyah N. K. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!