Kelebihan Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik dalam kenyataannya memiliki beberapa kelebihan seperti pembelajaran terpadu. Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, pembelajaran terpadu memiliki kelebihan sebagai berikut:

  • Pengalaman dan kegiatan belajar yang relevan dengan tingkat perkembangannya.
  • Kegiatan yang dipilih sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
  • Kegiatan belajar bermakna bagi anak, sehingga hasilnya dapat bertahan lama.
  • Keterampilan berpikir anak berkembang dalam proses pembelajaran terpadu.
  • Kegiatan belajar mengajar bersifat pragmatis sesuai lingkungan anak.
  • Keterampilan sosial anak berkembang dalam proses pembelajaran terpadu. Keterampilan sosial ini antara lain adalah: kerjasama, komunikasi, dan mau mendengarkan pendapat orang lain.

(Trianto, 2010 : 88)

Selain kelebihan yang dimiliki, menurut Indrawati dalam Trianto pembelajaran tematik juga memiliki keterbatasan, terutama dalam pelaksanaannya, yaitu pada perencanaan dan pelaksanaan evaluasi yang lebih banyak menuntut guru untuk melakukan evaluasi proses, dan tidak hanya evaluasi dampak pembelajaran langsung saja. Sementara Puskur Balitbang Diknas dalam Trianto, mengidentifikasi beberapa keterbatasan pembelajaran tematis (jika digunakan di SMP/sederajat atau SMA/sederajat), antara lain dapat ditinjau dari beberapa aspek sebagai berikut:

  • Aspek Guru:

Guru harus berwawasan luas, memiliki kreativitas tinggi, ketermapilan metodologis yang handal, rasa percaya diri yang tinggi, dan berani mengemas dan mengembangkan materi. Secara akademik, guru dituntut untuk terus menggali informasi ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan dan banyak membaca buku agar penguasaan bahan ajar tidak berfokus pada bidang kajian tertentu saja. Tanpa kondisi ini, maka pembelajaran tematik akan sulit terwujud.

  • Aspek peserta didik:

Pembelajaran tematik menuntut kemampuan belajar peserta didik yang relatif ‘baik’, baik dalam kemampuan akademik maupun kreativitasnya. Hal ini terjadi karena model pembelajaran tematik menekankan pada kemampuan analitik (mengurai), kemampuan asosiatif (menghubung-hubungkan), kemampuan eksploratif dan elaboratif (menemukan dan menghubungkan). Bila kondisi ini tidak dimiliki, maka penerapan model pembelajaran tematik ini sangat sulit dilaksanakan.

  • Aspek sarana dan sumber pembelajaran:

Pembelajaran tematik memerlukan bahan bacaan atau sumber informasi yang cukup banyak dan bervariasi, mungkin juga fasilitas internet. Semua ini akan menunjang, memperkaya, dan memudahkan pengembangan wawasan. Bila saran ini tidak dipenuhi, maka penerapan pembelajaran ini akan terhambat.

  • Aspek kurikulum:

Kurikulum harus luwes, berorientasi pada pencapaian ketuntasan pemahaman peserta didik (bukan pada pencapaian target penyampaian materi). Guru perlu diberi wewenang dalam mengembangkan materi, metode, penilaian keberhasilan pembemlajaran peserta didik.

  • Aspek penilaian:

Pembelajaran tematik membutuhkan cara penilaian yang menyeluruh (komprehensif), yaitu menetapkan keberhasilan belajar peserta didik dari beberapa bidang kajian terkait yang dipadukan. Dalam kaitan ini, guru selain dituntut untuk menyediakan teknik dan prosedur pelaksanaan penilaian dan pengukuran yang komprehensif, juga dituntut untuk berkoordinasi dengan guru lain, bila materi pelajaran berasal dari guru yang berbeda.

  • Aspek suasana pembelajaran:

Pembelajaran tematik berkecenderungan mengutamakan salah satu bidang kajian dan ‘tenggelamnya’ bidang kajian lain . Dengan lain kata, pada saat mengajarkan sebuah tema, maka guru berkecenderungan menekankan atau mengutamakan substansi gabungan tersebut sesuai dengan pemahaman, selera, dan latar belakang pendidikan guru itu sendiri. (Trianto, 2010 : 90-91).

Referensi:

Trianto. 2007. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!