Pengertian Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT)

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT)

Teori-teori baru dalam psikologi pendidikan dikelompokkan dalam teori pembelajaran kontruktivisme. Teori ini menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai. Menurut teori kontruktivis ini, satu prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberikan kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar.

Pembelajaran yang bernaung dalam teori konstruktivis adalah kooperatif. Pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok  untuk saling membantu memecahkan masalah – masalah  yang kompleks. Jadi, hakikat sosial dan penggunaan kelompok sejawat menjadi aspek utama dalam pembelajaran kooperatif (Trianto : 56).

Menurut Rohman (2009 : 186-187), pembelajaran kooperatif mem8iliki ciri bahwa setiap siswa saling ketergantungan dalam hal positif dalam belajar, adanya tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi intensif antar siswa, dan evaluasi. Untuk itulah, dalam pembelajaran kooperatif terdapat ciri-ciri adanya tujuan kelompok, akuntabilitas diri, kesempatan yang sama untuk berhasil, kompetensi antar kelompok, adanya spesialisasi tugas dan adaptasi kebutuhan individu. Secara umum, proses dalam pembelajaran kooperatif berlangsung dalam beberapa fase, yaitu diawalai dengan penyampaian tujuan dan memotivasi siswa, penyajian informasi, pengorganisasian siswa kedalam bentuk kelompok belajar, pembimbingan kelompok, diakhiri dengan evaluasi, dan ditutup dengan pemberian penghargaan.

Berikut ini dijelaskan langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif:

  1. Orientasi, yaitu berupa pemusatan perhatian dan memotivasi siswa pada topik yang sedang dipelajari.
  2. Elisitasi, yaitu penggalian kemampuan keterampilan proses awal yang diwakili siswa dan mengetahui penguasaan konsep awalnya.
  3. Restrukturisasi, yaitu upaya guru dalam mengubah atau mengembangkan keterampilan proses matematika.
  4. Aplikasi, yaitu menggunakan keterampilan proses siswa dan konsep yang baru diperolehnya untuk menjelaskan fenomena dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Pemantapan, yaitu penguatan kembali keterampilan proses dan penguasaan konsep yang telah diperoleh siswa dengan cara mengkaji ulang dan memberikan umpan balik. (Lie, 2004 : 54).

Terdapat beberapa variasi dari pembelajaran kooperatif salah satunya adalah Numbered Head Together (NHT). Menurut Trianto (2009 : 82), “Number Head Together (NHT) atau penomoran berpikir bersama adalah salah satu model pembelajaran yang didesain untuk memberikan pengaruh interaksi siswa”. Numbered Head Together (NHT) berhasil dikembangkan oleh Spenser Kagen pada tahun 1993 dimana proses pembelajaran lebih banyak melibatkan siswa agar dapat memahami isi materi pelajaran yang diberikan.

Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Spenser Kagen untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dengan mengecek pemahaman mereka mengenai isi pelajaran tersebut sebagai pengganti pertanyaan langsung kepada seluruh kelas, guru mengggunakan empat langkah sebagai berikut : (1) Penomoran, (2) Pengajuan pertanyaan, (3) Berpikir bersama, (4) Pemberian jawaban. Tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif tipe NHT yaitu :

  1. Hasil belajar akademik struktural. Bertujuan untuk meningkatkan kinerja   siswa dalam tugas-tugas akademik.
  2. Pengakuan adanya keragaman. Bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai latar belakang yang berbeda.
  3. Pengembangan keterampilan sosial. Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagai tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan sebagainya. (Widyantini, 2006 : 7).

Langkah-langkah penerapan NHT dalam pembelajaran, menurut Widyantini (2006 : 7) adalah sebagai berikut :

  1. Guru menyampaikan materi pembelajaran atau permasalahan kepada siswa sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
  2. Guru memberikan kuis secara individual kepada siswa untuk mendapatkan skor dasar atau awal.
  3. Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa, setiap anggota kelompok diberi nomor atau nama.
  4. Guru mengajukan permasalahan untuk dipecahkan bersama dalam kelompok.
  5. Guru mengecek pemahaman siswa dengan menyebut salah satu nomor (nama) anggota kelompok untuk menjawab. Jawaban salah satu siswa yang ditunjuk oleh guru merupakan jawaban dari kelompok.
  6. Guru memfasilitasi siswa dalam membuat rangkuman, mengarakan, dan memberikan penegasan pada akhir pembelajaran.
  7. Guru memberika tes / kuis kepada siswa secara individual.
  8. Guru memberikan penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya.

Sedangkan menurut Trianto (2009 : 82-83) dalam mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas, guru menggunakan struktur empat fase sebagai sintaks NHT :

  1. Fase I : Penomoran

Dalam fase ini siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan diberi nomor pada setiap anggota

  1. Fase II : Mengajukan Pertanyaan

Guru memberikan stimulus berupa pertanyaan kepada siswa.

  1. Fase III : Berpikir Bersama

      Siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban itu.

  1. Fase IV : Menjawab

      Guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.

Kelebihan NHT, model pembelajaran NHT ini memiliki kelebihan diantaranya dapat meningkatkan pestasi belajar siswa, mampu memperdalam pemahaman siswa, menyenangkan siswa dalam belajar, mengembangkan sikap positif siswa, mengembangkan sikap kepemimpinan siswa, mengembangkan rasa ingin tahu siswa, meningkatkan rasa percaya diri siswa, mengembangkan rasa percaya diri siswa, mengembangkan rasa saling memiliki, serta mengembangkan keterampilan untuk masa depan.

Selain itu, NHT merupakan model pembelajaran kooperatif, sehingga di dalamnya juga dapat ditemukan kelebihan-kelebihan tentang pembelajaran kooperatif. Sedangkan kelemahan dari NHT ini adalah tidak terlalu cocok untuk jumlah siswa yang banyak karena membutuhkan waktu yang lama dan tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru.

Berdasarkan beberapa pendapat tentang NHT tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa pembelajaran kooperatif tipe NHT adalah suatu model pembelajaran berkelompok yang beranggotakan 4-5 siswa, dimana dalam proses pembelajarannya setiap siswa dalam satu kelompok mendapatkan masing-masing nomor yang berbeda. Tujuan pemberian nomor tersebut adalah untuk memudahkan dalam pemanggilan siswa ketika siswa harus menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru di depan kelas. Guru memberikan pertanyaan yang bersangkutan dengan materi pembelajaran kepada semua kelompok, setelah itu siswa dituntut untuk menjawab pertanyaan tersebut secara bersama-sama (Heads Together)

 

Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana 56

Rohman, A. 2009. Memahami Pendidikan dan Ilmu Pendidikan. Yogjakarta :

Laksbang Mediatama Yogyakarta 186-187

Lie, Anita. 2004. Cooperatif Learning. Jakarta : PT. Grasindo

Widyantini. 2006. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Numbered Head Together (NHT).

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!