Teori dan Pengertian Kemampuan Berpikir Statistik

Kemampuan Berpikir Statistik

Britz et al (1996) menetapkan Teori Pengetahuan Deming sebagai sumber asli dari definisi tentang berpikir statistik. Pengetahuan mendalam memiliki 4 bagian, yaitu 1) Apresiasi untuk sistem; 2) Pengetahuan tentang variasi; 3) Pengetahuan teori; dan 4) Psikologi. Selanjutnya Britz et al (1996) mengatakan bahwa : Ada 3 prinsip dari berpikir statistik, yaitu : 1) semua pekerjaan terjadi dalam suatu sistem proses; 2) Ada variasi dalam semua proses; 3) Memahami dan mengurangi variasi merupakan kunci untuk sukses.

Sebelumnya Ronald Snee (1986: 27) mengatakan: berpikir statistik digunakan untuk menjelaskan proses berpikir yang mengakui sifat bahwa adanya variasi dimana-mana, melakukan identifikasi, karakterisasi, kuantifikasi, kontrol, dan reduksi untuk memberikan kesempatan yang unik dalam suatu perbaikan. Setiap kegiatan usaha terdiri dari kumpulan proses yang saling berhubungan dimana input, variabel kontrol, dan output tergantung dari variasi. Ini mengarah pada kesimpulan bahwa berpikir statistik harus digunakan secara rutin di semua tingkat organisasi”.

Selanjutnya Snee (1990: 118) mendefinisikan berpikir statistik sebagai proses berpikir, yang mengakui bahwa variasi ada di sekitar kita dan hadir dalam segala sesuatu yang kita lakukan, semua pekerjaan serangkaian proses yang saling berhubungan, dan mengidentifikasi, karakterisasi, pengukuran, pengendalian, dan mengurangi variasi memberikan kesempatan untuk perbaikan.

Beberapa tahun kemudian Wild dan Pfannkuch (1998) menyatakan bahwa ada 4 unsur yang dapat dijadikan pondasi untuk berpikir statistik (statistical thinking), yaitu: 1) memperhitungkan variasi; 2) mengkontruksi dan melakukan penalaran dari model; 3) memiliki pengetahuan dasar dalam domain statistik dan domain konteks; dan 4) melakukan sintesis atau integrasi. Definisi lebih luas tentang berpikir statistik (statistical thinking) dikemukakan oleh delMas (2002) bahwa berpikir statistik (statistical thinking) adalah suatu kemampuan untuk mengerti proses statistik secara keseluruhan diantaranya proses pengambilan data, pembuatan kuesioner, menentukan variabel, dan kemampuan menjawab permasalahan yang ada. Untuk lebih memahami berpikir statistik (statistical thinking) dapat ditempuh  langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Memiliki penalaran yang baik terhadap cara memilih data sehingga dapat digunakan untuk menjawab permasalahan yang ada.
  2. Memiliki kemampuan untuk menjawab permasalahan dengan baik berdasarkan data yang ada, dengan cara yang berbeda dan memperoleh hasil yang tidak jauh berbeda.
  3. Memiliki pengertian yang baik terhadap proses statistik secara keseluruhan termasuk setiap perhitungan yang terlibat dalam proses tersebut.
  4. Memiliki pengertian yang baik terhadap data dan mampu menganalisa data tersebut dengan baik.
  5. Memiliki penalaran untuk memecahkan masalah secara statistik berdasarkan data yang ada, dan menginterpretasikannya dalam pengambilan keputusan yang dapat berlaku secara umum.
  6. Memiliki penalaran yang lebih luas terhadap statistik, dan tidak hanya bergantung pada buku.

Britz, G., Emerling, D., Hare, L., Hoerl, R. and Shade, J. (1997). How to teach others to apply Statistical thinking. Quality Progress, June 1997 issue, 67-79.

Snee, Ronald. D. (1990), “Statistical Thinking and Its Contribution to Total Quality,” The American Statistikian, 44, 116-121.

Wild, C. J., and Pfannkuch, M. (1999), “Statistical Thinking in Empirical Enquiry,” International Statistical Review, 67, 223-265.

delMas, Robert C. (2002). Statistical Literacy, Reasoning, and Learning: A Commentary. Journal of Statistiks Education Volume 10, Number 3 (2002).www.amstat.org/publications/jse/v10n3/delmas_discussion.html

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!