Macam-macam Motivasi

Menurut Mahmud (2005: 98) motivasi dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ektrinsik. Sedangkan menurut Wena dalam (Rojab, 2015: 17) menjelaskan bahwa motivasi instrinsik adalah suatu keinginan yang timbul dari faktor dalam individu. Dalam konteks belajar mengajar siswa yang termotivasi secara instrinsik dapat dilihat dari aktifitas yang tekun dalam mengerjakan tugas-tugas belajar karena siswa merasakan suatu hal kebutuhan dalam proses belajar. Sedangkan motivasi ekstrinsik merupakan aktifitas belajar yang datangnya dari dorogan atau ambisi dan secara kebutuhan seorang tersebut yang tidak mutlak dari keinginan belajarnya. Motivasi ini bukanlah tumbuh diakibatkan oleh dororngan dari luar diri seseorang seperti dorongan dari orang lain dan sebagainya (Uno, 2009: 24).

Para psikologi kognitif berkeyakinan bahwa motivasi yang lebih signifikasi yaitu motivasi intrinsik karena tidak bergantung pada dorongan atau pengaruh orang lain. Namun antara motivasi intrinsik dan ektrinsik sebenarnya saling berkaitan karena motivasi siswa dalam belajar matematika pada diri seorang siswa juga bisa muncul dengan adanya dorongan dari orang lain atau lingkungannya seperti keluarga, sekolah, teman dan lain sebagainya.

  1. Unsur-unsur yang Mempengaruhi Motivasi Belajar

Dalam kerangka pendidikan formal menurut Dimyati dan Mudijiono menyatakan bahwa motivasi dalam belajar berada dalam rekayasa pedagogis guru. Dengan tindakan pembuatan persiapan mengajar, palaksanaan belajar-mengajar, maka guru menguatkan motivasi belajar siswa. Sebaliknya, dilihat dari segi emansipasi:

  1. Cita-cita atua aspirasi siswa

Motivasi belajar tampak pada keinginan anak sejak kecil seperti keinginan belajar berjalan, makan-makanan yang lezat, berebut permainan, dapat membaca, dapat menyanyi dan lain-lain selanjutnya. Keberhasilan mencapai keinginan tersebut menumbuhkan kemauan bergiat, bahkan di kemudian hari menimbulkan cita-cita dalam kehidupan. Timbulnya cita-cita dibarengi oleh perkembangan akal, moral, kemauan, bahasa, dan nilai-nilai kehidupan. Timbulnya cita-cita juga dibarengi oleh perkembangan kepribadian.

Dari segi emansipasi kemandirian, keinginan yang terpuaskan dapat memperbesar kemauan dan semangat belajar. Dari segi pembelajaran, penguatan dengan hadiah atau juga hukuman akan dapat mengubah keinginan menjadi kemauan, dan kemudian kemauan menjadi cita-cita. Keinginan berlangsung sesaat atau dalam jangka waktu singkat, sedangkan kemauan dapat berlangsung dalam waktu yang lama. Kemauan telah disertai dengan perhitungan akal sehat. Cita-cita dapat berlangsung dalam waktu sangat lama, bahkan sepanjang hayat. Cita-cita siswa untuk “menjadi seseorang… “gambaran ideal seperti pemain bulu tangkis dunia, misalnya) akan memperkuat semangat belajar dan mengarahkan perilaku belajar. Misalnya siswa tersebut akan rajin berolah raga, melatih napas, berlari, meloncat, disamping tekun berlatih bulu tangkis. Cita-cita akan memperkuat motivasi belajar intrinsik maupun ekstrinsik. Sebab tercapainya sesuatu cita-cita akan mewujudkan aktualisasi diri.

  1. Kemauan siswa

Keinginan seorang anak perlu dibarengi dengan kemauan atau kecakapan mencapaianya. Keinginan membaca perlu dibarengi dengan kemampuan mengenal dan mengucapkan bunyi huruf-huruf. Kesukaran mengucapkan huruf “r” misalnya, dapat diatasi dengan drill / melatih ucapan “r” yang benar. Latihan berulang kali menyebabkan terbentuknya kemampuan mengucapakan “r”. Dengan didukung kemampuan mengucapkan “r”, atau kemampuan mengucapakan huruf-huruf yang lain, maka keinginan anak untuk membaca akan terpunuhi. Keberhasilan membaca suatu buku bacaan akan menambah kekayaan pengalaman hidup. Keberhasilan tersebut memuaskan dan menyenangkan hatinya. Secara perlahan-lahan terjadilah kegemaran membaca pada anak yang semula sukar mengucapakan huruf “r” yang benar. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa kemampuan akan memperkuat motivasi anak untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan.

  1. Kondisi siswa

Kondisi siswa yang meliputi kondisi jasmani dan rohani mempengaruhi motivasi belajar. Seorang siswa yang sedang sakit, lapar, atau marah-marah akan mengganggu perhatian belajar. Sebaliknya, seorang siswa yang sehat, kenyang dan gembira akan mudah memusatkan perhatian. Anak yang sakit akan enggan belajar. Anak yang marah-marah akan sukar memusatkan perhatian pada penjelasan pelajaran. Sebaliknya, setelah siswa tersebut dengan senag hati membaca buku-buku pelajaran agar ia memperoleh nilai rapor baik, seperti sebelum sakit. Dengan kata lain, kondisi jasmani dan rohani siswa berpengaruh pada motivasi belajar (Dimyati dan Mudjiono, 2010: 98).

  1. Kondisi lingkungan siswa

Dalam hal ini lingkungan dalam dikatakan sebagai situasi alam, tempat tinggal, pergaulan dan kehidupan dalam bermasyarakat. Sebagai warga lingkungan siswa dapat dipengaruhi oleh lingkungannya. Seperti bencana alam, tempat tinggal yang tidak kondusif hingga ancaman dan perkelahianakan mengganggu proses belajar siswa. Sebaliknya dari pada itu, tempat lingkungan belajar yang nyaman , pergaulan yang rukun akan selalu memberikan motivasi positif dalam belajar siswa. Dengan adanya lingkungan yang aman, tenteram , tertib dan nyaman maka diharapkan semangat dan motivasi belajar siswa mudah meningkat. (Dimyati dan Mudjiono, 2010: 99).

  1. Fungsi Motivasi dalam Belajar

Menurut Dimyati dan Mudjiono (2010: 85) bagi siswa pentingnya motivasi belajar adalah sebagai berikut:

  1. Menyadarkan posisi awal belajar, saat proses belajar dan hasil akhir setelah belajar.
  2. Memberikan informasi terkait usaha dalam kegiatan belajar yang dibandingkan dengan siswa lainnya.
  3. Mengarahkan aktifitas belajar.
  4. Meningkatkan semangat dalam belajar siswa.
  5. Memberikan gambaran masa depan seperti belajar kemudian bekerja.

Uno, Hamzah B. 2009. Model Pembelajaran: Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara

Dimyati dan Mudjiono. 2010. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Mahmud. 2005.Psikologi Pendidikan Mutakhir. Bandung: Sahifa

Rojab, A. 2015.Pengaruh Pengunaan Metode Peer Teaching Terhadap Motivasi Belajar Matematika MTs Negeri 2 Kota Cirebon. Cirebon (ID): Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Cirebon.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!