Pengertian Metode Pembelajaran Inquiry berorientasi Discovery

Metode Pembelajaran Inquiry berorientasi Discovery

  1. Pengertian Metode Pembelajaran inquiry Berorientasi Discovery

Sund, yang dikutip oleh Suryosubroto dalam Trianto (2010: 166) menyatakan bahwa discovery merupakan bagian dari inquiry atau inquiry merupakan perluasan dari proses discovery yang digunakan lebih mendalam. Inkuiri yang dalam bahasa Inggris Inquiry, berarti pertanyaan atau pemeriksaan, penyelidikan. Inkuiri sebagai suatu proses umum yang dilakukan manusia untuk mencari atau memahami informasi. Sedangkan menurut Gulo Strategi Inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.

Menurut Hanafiah dan Suhana (2012: 77) Discovery dan Inquiry merupakan suatu rangkaian kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, dan logis sehingga mereka dapat menemukan sendiri pengetahuan, sikap dan keterampilan sebagai wujud adanya perubahan perilaku.

Menurut Carin dalam Suprihatiningrum (2013: 162-163)  menyatakan bahwa inkuiri pada dasarnya adalah proses mental yang membawa siswa atau individu mengasimilasi konsep dan prinsip.

Menurut Amien (Suprihatiningrum, 2013: 163) kegiatan inkuiri dibentuk dan meliputi kegiatan discovery (penemuan). Dengan demikian, penemuan  (discovery) menunjukkan kegiatan inquiry. kegiatan inkuiri merupakan suatu kegiatan atau pelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan konsep dan prinsip melalui proses mentalnya sendiri. Menurut Piaget (Junaedi, 2008: 11) perkembangan mental (intelektual) dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu:

  • Maturation atau kematangan adalah proses perubahan fisiologis dan anatomis, yaitu proses pertumbuhan fisik yang meliputi pertumbuhan tubuh, pertumbuhan otak, dan pertumbuhan system syaraf. Pertumbuhan otak merupakan salah satu aspek yang sangat berpengaruh terhadap kemampuan berpikir (intelektual) peserta didik.
  • Physical experience adalah tindakan-tindakan fisik yang dilakukan individu terhadap benda-benda yang ada di lingkungan sekitarnya. Aksi atau tindakan fisik yang dilakukan individu memungkinkan dapat mengembangkan aktivitas/daya pikir. Bagi Piaget aksi atau tindakan adalah komponen dasar pengalaman.
  • Social experience adalah aktifitas dalam berhubungan dengan orang lain.
  • Equilibration adalah proses penyesuaian antara pengetahuan yang sudah ada dengan pengetahuan baru yang ditemukannya. Ada kalanya anak dituntut untuk memperbarui pengetahuan yang sudah terbentuk setelah ia menemukan informasi baru yang tidak sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya.

Sund dan Trowbridge (Suprihatiningrum, 2013: 162) menyatakan bahwa discovery when an individual is involve mainly in using his mental prosses to mediate (discover) some concept or principle. Proses penemuan (discovery) terjadi ketika siswa terlibat dalam proses kegiatan menemukan suatu konsep ataupun prinsip. Kata discovery dikaitkan dengan kata inquiry sehingga akan tersirat makna yang sama, yaitu suatu kegiatan penyelidikan untuk menemukan suatu konsep pemahaman yang dilakukan (keterlibatan) sendiri oleh siswa. Kindsvatter, Willam, dan Ishler (Suprihatiningrum, 2013: 163) menyatakan inkuiri adalah sebuah pendekatan, yang mana guru melibatkan kemampuan berpikir kritis siswa untuk menganalisis dan memecahkan persoalan secara sistematik melalui proses identifikasi persoalan,  membuat hipotesis, mengumpulkan data , menganalisis data, dan mengambil kesimpulan dengan melalui langkah-langkah tersebut siswa mampu menemukan suatu prinsip, hukum, ataupun teori.

(Iru dan Arihi, 2012: 14) Inkuiri sebenarnya sudah dikenal sejak lama dan sudah digunakan dalam proses pembelajaran. Hanya penggunaannya relatif masih jarang, bahkan sering diabaikan. Hal terpenting dalam inkuiri ini adalah siswa mencari sesuatu sampai tingkatan “yakin” (belief-percaya). Tingkatan tersebut dicapai dengan adanya dukungan fakta, analisis, interpretasi dan pembuktiannya. Bahkan lebih dari hal tersebut, dalam inkuiri akan dicapai tingkat pencarian alternatif pmecahan masalah tersebut. Dengan inkuiri ini siswa akan dilibatkan melakukan penyelidikan terhadap faktor-faktor yang belum pernah dilakukan, dan ini akan memberi motivasi yang tinggi. Inkuiri menekankan kepada siswa untuk belajar mengembangkan potensi intelektualnya dalam kegiatan yang disusunnya sendiri untuk menemukan sesuatu. Siswa didorong untuk bertindak aktif mencari jawaban atas masalah-masalah yang dihadapinya dan menarik kesimpulan sendiri melalui proses berpikir ilmiah yang kritis, logis, dan sistematis. Siswa tidak lagi bersifat dan bersikap pasif, menerima dan menghafal pelajaran dari gurunya. Yang mendasari dari inquiry berorientasi discovery ini adalah: a) keterampilan berpikir yang diperlukan berkaitan dengan pengumpulan data yang bertalian dengan kelompok hipotesis; b) pengalaman kelompok, dimana mereka berkomunikasi, berbagi tanggung jawab, dan bersama-sama mencari pengetahuan; c) kegiatan belajar yang disajikan menambah motivasi (Hamalik, 2012: 220).

Melakukan inkuiri berarti melibatkan diri dalam Tanya jawab, mencari informasi, dan melakukan penyelidikan. Dalam pelaksanaannya siswa bertanggung jawab untuk memberi ide atau pemikiran dan pertanyaan untuk eksplorasi, mengajukan hipotesis untuk diuji, mengumpulkan dan mengorganisasi data yang dipakai untuk menguji hipotesis, dan sampai pada pengambilan kesimpulan yang masih tentatif (Iru dan Arihi, 2012: 15). Adapun sasaran utama kegiatan Pembelajaran Inquiry adalah (Trianto, 2010: 166):

  • Keterlibatan siswa secara maksimal dalam proses kegiatan belajar.
  • Keterarahan kegiatan secara logis dan sistematis pada tujuan pembelajaran.
  • Mengembangkan sikap percaya diri siswa tentang apa yang ditemukan dalam proses Inkuiri.

Proses inkuiri selama pembelajaran berdampak kontruktif yang memberi banyak peluang dan tenaga untuk meningkatkan keefektifan pengajaran dan pembelajaran. Uraian berikut menunjukkan dasar dari pernyataan ini (Suprihatiningrum, 2013: 164-165).

  1. Inkuiri adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan , yaitu pertanyaan-pertanyaan yang dapat dijawab dan mengantarkan pada pengujian dan eksplorasi bermakna.
  2. Inkuiri adalah seni dan sains tentang mengajukan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menghendaki pengamatan dan pengukuran, pengajuan hipotesis dan penafsiran, pembangunan dan pengujian model melalui eksperimen, refleksi, dan pengakuan atas kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan dari metode penyelidikan yang digunakan.
  3. Selama inkuiri, guru dapat mengajukan suatu pertanyaan atau mendorong siswa mengajukan pertanyaan-pertanyaan mereka sendiri, yang dapat bersifat openended, memberi peluang siswa untuk mengarahkan penyelidikan mereka sendiri dan menemukan jawaban-jawaban yang mungkin dari mereka sendiri, dan mengantarkan lebih banyak pertanyaan lain.
  4. Inkuiri adalah apa yang dilakukan para ilmuwan, yang berarti siswa memiliki ruang, peluang, dan dorongan untuk bekerja (handson, mindson, dan socialson) dalam cara formal dan sistematika yang teruji dan terulangi dalam membangun body of information yang bermakna.
  5. Dalam pengamalan sains sebagai inkuiri, siswa belajar bagaimana menjadi ilmuwan, tidak hanya sekedar belajar melalui penghafalan-pengulangan dan pedrillan-penerapan berulang body of facts and concepts.
  6. Inkuiri menyediakan siswa beraneka ragam pengalaman konkret dan pembelajaran aktif yang mendorong dan memberikan ruang dan peluang kepada siswa untuk mengambil inisiatif dalam mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan penelitian sehingga memungkinkan mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat.
  7. Inkuiri melibatkan komunikasi yang berarti tersedia suatu ruang, peluang, dan tenaga bagi siswa untuk mengajukan pertanyaan dan pandangan yang logis, objektif, dan bermakna serta untuk melaporkan hasil-hasil kerja mereka.
  8. Inkuiri memungkinkan guru belajar tentang siapakah siswa mereka. Apa yang siswa ketahui, dan bagaimana pikiran siswa bekerja sehingga guru dapat menjadi fasilitator yang lebih efektif berkat adanya pemahaman guru mengenai siswa mereka.
  9. Inkuiri menghendaki siswa untuk mengambil tanggung jawab atas pendidikan mereka sendiri.

Berdasarkan definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa inquirydiscovery  merupakan suatu proses yang ditempuh siswa untuk memecahkan masalah, merencanakan eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, dan menarik kesimpulan. Jadi, dalam metode inkuiri ini siswa terlibat secara mental maupun fisik untuk memecahkan suatu permasalahan yang diberikan guru. Dengan demikian, siswa akan terbiasa bersikap seperti para ilmuwan sains, yaitu teliti, tekun/ulet, objektif/jujur, kreatif, dan menghormati pendapat orang lain.

Hamalik, Oemar. 2012. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara

Hanafiah, Nanang dan Cucu Suhana. 2012. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: refika Aditama

Iru, La dan La Ode Safiun Arihi. 2012. Analisis Pendekatan, Metode,Strategi, dan Model-Model Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Persindo

Junaedi, dkk. 2008. Strategi Pembelajaran. Surabaya: Tidak Diterbitkan

Suprihatiningrum, jamil. 2013. Strategi Pembelajaran Teori & Aplikasi. Jogjakarta: Ar-ruz Media

Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana

 

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!