Pengertian Definisi Strategi Reciprocal Teaching

Strategi Reciprocal Teaching

Pembelajaran  reciprocal teaching  ini lahir dari bidang kajian bahasa, yang berguna untuk meningkatkan kualitas kemampuan membaca siswa. Sedangkan jika pembelajaran  reciprocal teaching  ini diterapkan pada mata pelajaran metematika maka semestinya juga tidak boleh terlalu jauh dari karakteristik dasar pembelajaran  reciprocal teaching  itu sendiri. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa strategi ini dapat diperluas untuk mengembangkan berbagai kompetensi lain. misalnya saja strategi ini ditingkatkan buat menaikkan kemampuan penyelesaian persoalan sebagai akibatnya dapat diterapkan pada tahapan atau langkah penjelasan selesainya bahan teks bacaan dibaca sang peserta didik, ini berupa teks tentang konsep yg akan diajarkan sekaligus berisi soal yang wajib diselesaikan. pada pengklarifikasian hal ini peserta didik diminta buat mencerna makna berasal kataistilah dalam teks yg diberikan oleh pengajar, sehingga pada langkah awal ini perlu dicek apakah peserta didik telah memahami kataistilah, kalimat dalam teks melalui dialogdialog dengan peserta didik. (Zulaihah, 2014: 37)

Reciprocal teaching yang pertama dikembangkan oleh Anne Marrie Polincar dan Anne Brown merupakan suatu model pembelajaran yang digunakan untuk mengingatkan pemahaman terhadap suatu topik, dalam pembelajaran ini guru maupun murid memegang peranan penting pada tahap dialog dalam suatu topik (teks), model pembelajaran ini terdiri dari empat aktivitas yaitu memprediksi (prediction), meringkas (summarizing), membuat pertanyaan (questioning), dan menjelaskan (clarifing). (Aprilia, 2010:11) Reciprocal Teaching Model merupakan model pembelajaran yang sangat fleksible dan mudah disesuaikan dengan kondisi kelas serta subjek pelajarannya (Yunita, 2012:139). Reciprocal Teaching Model yang di-perkenalkan oleh Palincsar dan Brown bukanlah harga mati ataupun rumus baku. (Sardiyanti, 2010:14)

Senada dengan pendapat diatas, Arend (dalam Ain Zaelan) reciprocal teaching adalah prosedur pengajaran atau pendekatan yang dirancang untuk mengajarkan kepada siswa tentang strategi kognitif, serta membantu siswa memahami bacaan dengan baik. Arend pun berbicara tentang keefektifan reciprocal teaching dalam membentuk siswa yang belajar mandiri. Siswa yang belajar mandiri adalah siswa yang tahu kapan saat yang tepat untuk meringkas atau mengajukan pertanyaan sambil membaca suatu pokok bahasan dalam sebuah buku atau mendengarkan penyampaian guru, dan siswa memiliki motivasi untuk memantau keberhasilan belajarnya sendiri. (Nurjannah, 2011:16).

Reciprocal teaching merupakan salah satu model pendekatan pembelajaran dimana siswa dilatih untuk memahami suatu naskah dan menjelaskannya pada teman sebaya, sehingga para ahli banyak yang menyebut reciprocal teaching ini sebagai peer practice (latihan dengan teman sebaya). Palinscar (1986) menyatakan bahwa reciprocal teaching adalah suatu kegiatan belajar yang meliputi membaca bahan ajar yang disediakan, menyimpulkan, membuat pertanyaan, menjelaskan kembali dan menyusun prediksi. Pembelajaran ini dilakukan secara kooperatif di mana salah  satu anggota grup berperan menjadi guru (siswa pengajar) serta dilakukan secara bergantian. galat seseorang peserta didik yg bertugas menjadi peserta didik guru tadi memimpin teman-teman pada kelompoknya dalam melaksanakan termin-tahap reciprocal teaching. Sedangkan pengajar berperan sebagai fasilitator yg memberi kemudahan, serta pembimbing yg melakukan scaffolding.

Menurut Borich (1992), menyatakan bahwa dalam reciprocal teaching siswa mendapatkan kesempatan mengeksplorasi materi ajar melalui dialog kelas. Sebagai pusat kegiatan reciprocal teaching dapat dikatakan bahwa roh dari reciprocal teaching sebenarnya adalah cooperative learning. Pendekatan ini menekankan pentingnya kerja sama antar individu dalam rangka memecahkan masalah. Reciprocal teaching adalah prosedur pembelajaran yang dirancang tidak hanya untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap teks (materi ajar), tetapi juga dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. (Sujati, 2005: 8)

Prosedur-prosedur ini dirancang oleh Anne marie Palincsar dari Michigan State University dan Anne Brown dari The Universuty of Illinois pada tahun 1984, dengan karakteristik sebagai berikut ; (1) terjadi dialog antara siswa dengan guru, yang saling mengambil alih dalam peran menjadi pemimpin dialog; (2) ”reciprocal”, terjadi interaksi satu orang berperan untuk merespon yang lainnya; (3) dialog disusun menggunakan 4 strategi: mengajukan pertanyaan, merangkum, menjelaskan, dan meramalkan. (Pratiwi dan Widayati, 2012: 138)

Reciprocal teaching adalah pendekatan kontruktivis yang didasarkan pada prinsip-prinsip pembuatan atau pengajuan pertanyaan (Trianto, 2007:96). Menurut Sriyanti dan Marlina (2003:118) pembelajaran terbalik merupakan salah satu model pembelajaran yang memiliki manfaat agar tujuan pembelajaran tercapai melalui kegiatan belajar mandiri sehingga peserta didik mampu menjelaskan temuannya kepada yang lain serta dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam belajar mandiri. (Nurwahidah, dkk. 2012: 54)

Reciprocal teaching adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menerapkan empat strategi pemahaman mandiri, yaitu menyimpulkan bahan ajar, menyusun pertanyaan dan menyelesaikannya, menjelaskan kembali pengetahuan yang telah diperolehnya, kemudian memprediksikan pertanyaan selanjutnya dari persoalan yang disodorkan kepada siswa. Manfaatnya adalah dapat meningkatkan antusias siswa dalam pembelajaran karena siswa dituntut untuk aktif berdiskusi dan menjelaskan hasil pekerjaannya dengan baik sehingga penguasaan konsep suatu pokok bahasan matematika dapat dicapai. (Niken, dkk. 2012: 97)

Menurut Nur dan Wikandari, (2000:16) mengatakan bahwa reciprocal teaching (pengajaran terbalik) merupakan pendekatan terhadap pengajaran siswa akan strategi-strategi belajar. Pengajaran terbalik adalah pendekatan konstruktivis yang berdasar pada prinsip-prinsip pembuatan atau pengajuan pertanyaan, dimana keterampilan-keterampilan metakognitif diajarkan melalui pengajaran langsung dan pemodelan oleh guru untuk memperbaiki kinerja membaca siswa yang membaca pemahamannya rendah. (Kurniawan, 2013: 36) Dengan pengajaran terbalik guru mengajarkan siswa keterampilan-keterampilan kognitif penting dengan menciptakan pengalaman belajar, melalui pemodelan perilaku tertentu dan kemudian membantu siswa mengembangkan keterampilan tersebut atas usaha mereka sendiri dengan pemberian semangat, dukungan dan suatu sistem scaffolding (Ann Brown, Anne Marrie Palincsar, dalam Nur, 2000:48).

Reciprocal Teaching Model merupakan model pembelajaran yang sangat fleksible dan mudah disesuaikan dengan kondisi kelas serta subjek pelajarannya (Yunita, 2012: 139). Reciprocal Teaching Model yang di-perkenalkan oleh Palincsar dan Brown bukanlah harga mati ataupun rumus baku. Hal ini dibuktikan oleh Delinda van Garderen (2004) yang mengubah alur Reciprocal Teaching model menjadi clarifying, predicting, questioning dan summarizing untuk diaplikasikan pada pelajaran matematika. (Rachmayani, 2014: 15)

Pengajaran terbalik terutama dikembangkan untuk membantu guru menggunakan dialog-dialog belajar yang bersifat kerja sama untuk mengajarkan pemahaman bacaan secara mandiri di kelas. Melalui pengajaran terbalik siswa diajarkan empat strategi pemahaman pengaturan diri spesifik, yaitu perangkuman, pengajuan pertanyaan, pengklarifikasian, dan prediksi. Penggunaan pendekatan ini dipilih karena beberapa sebab, yaitu:

  1. Merupakan kegiatan yang secara rutin digunakan pembaca
  2. Meningkatkan pemahaman maupun memberi pembaca peluang untuk memantau pemahaman sendiri dan
  3. Sangat mendukung dialog bersifat kerja sama (diskusi)

                        Prosedur pengajaran terbalik dilakukan pertama-tama dengan guru menugaskan siswa membaca bacaan dalam kelompok-kelompok kecil, kemudian guru memodelkan empat keterampilan (mengajukan pertanyaan yang bisa diajukan, merangkum bacaan, mengklarifikasi poin-poin yang sulit, berat ataupun salah, dan meramalkan apa yang akan ditulis pada bagian bacaan berikutnya) (Nur, 2000: 49). Selanjutnya guru menunjuk seorang siswa untuk menggantikan peranannya sebagai guru dan bertindak sebagai pemimpin diskusi dalam kelompok tersebut sebagai motivator, mediator, pelatih, dan memberi dukungan atau umpan balik, serta semangat bagi siswa dalam kelompok, serta membantu memonitor berpikir dan strategi yang digunakan.

Sedangkan menurut Brown dalam Emi Pujiastuti (2000: 33), pada Reciprocal Teaching siswa diajarkan empat strategi pemahaman mandiri yaitu sebagai berikut:

1) Siswa mempelajari materi yang ditugaskan guru secara mandiri, selanjutnya merangkum atau meringkas materi tersebut.

2) Siswa membuat pertanyaan yang berkaitan dengan materi yang diringkasnya. Pertanyaan yang dibuat diharapkan mampu mengungkap penguasaan atas materi yang bersangkutan.

3) Siswa mampu menjelaskan kembali isi materi kepada pihak lain.

4) Siswa dapat memprediksi kemungkinan pengembangan materi yang dipelajari saat itu. (Yulianti, 2010: 99)

Kurniawan, Herry. 2013. Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar Matematika Melalui Model Reciprocal Teaching. Purworejo: Skripsi Program Studi Matematika Universitas Muhamadiyah Purworejo

Niken, dkk. 2012. Penerapan Pembelajaran Matematika Melalui Model Pembelajaran Reciprocal Teaching Mengatasi Kesalahan Siswa Menyelesaikan Soal Matematika Kelas IX SMPN 1 Pakusari Pokok Bahasan Statistika Semester Ganjil Tahun Ajaran 2012/2013. Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Universitas Jember Volume 3 No. 3.

Nurjannah, Nunung Widya. 2011. Efektifitas Penggunaan Model Reciprocal Teaching Tipe Diskusi Kelompok dalam Upaya Peningkatan Keterampilan Berbicara Siswa. Jakarta: FITK UIN Syarif Hidayatullah

Nurwahidah, dkk. 2012. Penerapan Model Pembelajaran Matematika Reciprocal Teaching Berbasis Kooperatif untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Fisika Siswa Kelas X. Jurusan Fisika FMIPA Universitas Semarang Volume 1 No. 2.

Pratiwi, Inung dan Widayati, Ani. 2012. Pembelajaran Akuntansi Melalui Reciprocal Teaching Model untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep dan Kemandirian Belajar dalam Materi Mengelola Administrasi Surat Berharga Jangka Pendek Siswa Kelas X Akuntansi 1 SMKN 7 Yogyakarta Tahun Pelajaran 2011/2012. Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia Volume X No. 2

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!