Pengertian Model Thinking Aloud Pairs Problem Solving (TAPPS)

Pengertian model thinking aloud pairs problem solving (TAPPS) berdasarkan Musanif (Armin, 2007: 1) model TAPPS artinya pengembangan berasal model pembelajaran kooperatif, dimana siswa dituntut belajar berkelompok secara kooperatif. peserta didik dilatih dan dibiasakan buat saling membuatkan (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas dan tanggung jawab.Saling membantu dan berlatih beinteraksi, komunikasi, sosialisasi sebab kooperatif artinya miniatur berasal hayati bermasyarakat dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing. Jadi model pembelajaran koperatif ialah kegiatan pembelajaran menggunakan cara berkelompok buat bekerja sama saling membantu mengkontruksi konsep, menyelesaikan masalah, atau inkuiri. dari uraian tentang pembelajaran kooperatif, maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran TAPPS adalah pengembangan berasal pembelajaran kooperatif .
Musanif (Armin, 2007: 1) jua menjelaskan bahwa pada bahasa Indonesia Thinking Aloud ialah berfikir keras, Pairs adalah berpasangan dan problem Solving artinya penyelesaian duduk perkara. Jadi, Thinking Aloud Pairs masalah Solving (TAPPS) dapat diartikan sebagai teknik berfikir keras secara berpasangan pada penyelesaian problem yg adalah galat satu model pembelajaran yg dapat membentuk syarat belajar aktif pada siswa. Jenis pembelajaran ini menghasilkan siswa buat mencari tahu asalasal pengetahuan yg relevan. TAPPS menyampaikan tantangan kepada siswa buat belajar serta berfikir sendiri.
Thinking Aloud Pairs Problem Solving dapat dijabarkan atau diartikan secara terpisah yaitu teknik berfikir keras berpasangan (Thinking Aloud Pairs), yaitu suatu model pembelajaran yang menekankan pada peserta didik buat berfikir sendiri pada memahami konsep yang ada dengan melibatkan semua aspek yg terdapat.
dari penelusuran definisi wacana Thinking Aloud Pairs serta masalah Solving pada atas, dapat disimpulkan pengertian sederhana ihwal TAPPS yaitu suatu model pembelajaran yg berorientasi di kepandaian konstruktivisme, dimana fokus pembelajaran tergantung persoalan yang dipilih sebagai akibatnya siswa tidak saja menyelidiki konsep-konsep yg berafiliasi dengan dilema tetapi pula metode ilmiah buat memecahkan duduk perkara tersebut.Jadi, model pembelajaran ini adalah salah satu model pembelajaran yg menekankan di keaktifan siswa pada menggunakan semua alat serta akal budi buat tahu konsep yang dipelajari. Pembelajaran ini diperlukan berpengaruh positif terhadap pola pikir kreatif peserta didik. dalam pembelajaran ini siswa lebih banyak bekerja serta berpikir dari di mendengarkan serta sekedar menerima isu, sebagai akibatnya konsep yang diperoleh dapat tertanam lebih kuat, dan akibatnya prestasi belajar yg dicapai oleh peserta didik menjadi lebih baik.
TAPPS pertama kali diperkenalkan sang Claparade, yang kemudian digunakan oleh Bloom serta Border untuk meneliti proses pemecahan duduk perkara peserta didik SMA. Arthur Whimbey dan Jhon Lochhead sudah mengembangkan model ini di pengajaran matematika serta ekamatra. di model TAPPS, peserta didik di kelas dibagi menjadi beberapa tim, setiap tim terdiri berasal dua pihak. Satu pihak sebagai masalah solver serta pihak lainnya menjadi listener. Setiap anggota tim memiliki tugas masing-masing yang akan mengikuti aturan tertentu (Stice,1987: 4). Model TAPPS ini mengacu di 2 teori yaitu teori interaksi sosial Piaget serta teori Vygotsky tentang perkembangan sosial. dalam teorinya Piaget (Sujiono, 2009:58) percaya bahwa anak-anak itu menciptakan pengetahuannya melalui interaksi menggunakan lingkungan. Anak-anak bukanlah suatu objek penerima pengetahuan yang pasif, melainkan mereka dengan aktif melakukan pengaturan pengalaman mereka ke dalam struktur mental yang kompleks. kemudian Piaget menyatakan bahwa perkembangan kognitif terjadi ketika anak telah membangun pengetahuan melalui eksplorasi aktif serta penyelidikan pada lingkungan fisik serta sosial di lingkungan sekitar. Sehubungan dengan hal tersebut terdapat 2 teori yang dikemukakan oleh Piaget, yaitu asimilasi serta akomodasi. Proses asimilasi terjadi saat anak mendapatkan konsep, keterampilan dan info yang diperoleh asal pengalaman mereka menggunakan lingkungan dalam rangka berbagi pola atau skema pemahaman, sedangkan proses akomodasi terjadi waktu skema mental wajib diubah buat menyesuaikan menggunakan konsep, keterampilan serta isu baru.
Selain Piaget, metode TAPPS pula berhubungan menggunakan teori Vygotsky. Vygotsky (Sujiono, 2009: 60) berpendapat bahwa pengetahuan tidak diperoleh dengan cara dialihkan dari orang lain, melainkan merupakan sesuatu yang dibangun serta diciptakan sang anak. Vygotsky yakin bahwa belajar adalah suatu proses yang tidak bisa dipaksa sang luar sebab ana ialah pembelajar aktif serta mempunyai struktur psikologis yang mengendalikan perilaku belajarnya. Selain itu, Vygotsky menekankan pada hubungan orang menggunakan konteks budaya dimana mereka bertindak serta berinteraksi dalam membagi pengalaman. Peningkatan kualitas kognitif terasa berasal kehidupan sosialnya, bukan sekedar individu sendiri.

Tags:,

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!