Kelebihan Dan Kekurangan Model Pembelajaran Tutor Sebaya

Beberapa  studi  menemukan  kelebihan  dan  kekurangan  dari  model  tutor  sebaya, kelebihan tutor sebaya, antara lain[1] :

1) Tutoring  sebaya  menghilangkan  ketakutan  yang  sering  disebabkan  oleh  perbedaan umur, status, dan latar belakang antara peserta didik dengan guru. Antar peserta didik lebih mudah kerja sama dan komunikasi.

2) Lebih mungkin terjadi pembelajaran personal, antara teman dengan teman.

3) Si tutor sendiri akan mendapatkan pengertian lebih dalam dan juga menaikkan harga dirinya karena mampu membantu teman.

4) Tutor teman akan lebih sabar dari pada guru terhadap peserta didik yang lamban dalam belajar.

5) Lebih  efektif  dari  pada  pembelajaran  biasa  karena  peserta  didik  yang  lemah  akan dibantu tepat pada kekuranganny. Dan peserta didik yang lemah dapat terus terang memberi tahu tutornya mana yang belum jelas, tanpa malu-malu.

Sedangkan kekurangan model tutor sebaya adalah:

1) Peserta didik yang dipilih menjadi tutor dan prestasinya baik belum tentu mempunyai hubungan baik dengan peserta didik yang lain.

2) Peserta didik yang dipilih menjadi tutor belum tentu bisa menyampaikan materi dengan baik.

Syaiful   Bahri   Djaman   mengemukakan   sisi   kabaikan   dan   kelemahan   model pembelajaran adalah sebagai berikut [2]:

1) Adkalanya hasilnya lebih baik bagi anak yang mempunyai paerasaan takut atau enggan kepada guru.

2) Bagi  tutor,  pekerjaan  tutoring  akan  mempunyai  akibat  mempertakut  konsep  yang sedang dibahas. Dengan memberitahukan kepada anak lain, maka seolah-olah ia menelaah serta menghapalnya kembali.

3) Bagi tutor merupakan kesempatan untuk melatih diri memegang tanggung jawab dalam mengemban tugas dan melatih kesabaran.

4) Mempererat hubungan antar siswa sehingga mempertebal perasaan sosial.

Adapun sisi kelemahan kegiatan tutor sebaya adalah:

1) Siswa  yang dibantu  sering belajar  kurang  serius, karena  hanya  berhadapan  dengan kawannya, sehingga hasilnya kurang maksimal.

2) Ada  bebrapa  anak  yang menjadi malu bertanya  karena takut rahasiannya  diketahui kawannya.

3) Pada kelas-kelas tertentu pekerjaan tutoring ini sukar dilaksanakan karena perbedaan kelamin antar tutor siswa.

4) Tidak semua siswa yang pandai dapat mengajarkan kembali kepada kawan-kawannya.

[1] Suparno, Paul. 2007. Metodologi Pembelajaran Fisika Konstruktivistik & Menyenangkan.

Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. 140

[2] Syaiful Bahri Djaman. Dkk. 1996.  Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT Rineka Cipta. hlm.30

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!