Pengertian Model Pembelajaran Menurut Ahli

Tutor sebaya merupakan gabungan dari dua kata, yaitu tutor dan sebaya. Menurut Poerwadarminta menyatakan bahwa, kata tutor berasal dari bahasa Inggris yang berarti guru. Sedangkan kata sebaya berarti umur atau sesuai.

Tutor sebaya merupakan bagian dari cooperative learning atau belajar bersama. Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan peserta didik bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama[1]

Pembelajaran kooperatif yang sengaja disusun dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam proses belajar, memberikan fasilitas kepada siswa berupa pengalaman sikap kepemimpinan dan mengajarkan pengambilan keputusan dalam suatu kelompok dan juga siswa merasa leluasa berinteraksi dengan siswa lain yang memiliki latar belakang yang berbeda. Pembelajaran kooperatif disebut juga sebuah group kecil yang berada di dalamkelas yang bekerja sama untuk memecahkan suatu masalah yang sudah ditentukan (accomplish a common goal).[2]

Pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa peserta didik akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya.[3]

Kegiatan belajar bersama dapat membantu dan memacu belajar aktif. Dengan berkelompok siswa dapat melakukan diskusi dan saling mengajarkan kepada teman-temannya. Sehingga diharapkan siswa dapat memperoleh pemahaman dan penguasaan materi pelajaran yang diberikan oleh guru.[4] Model pembelajaran cooperatif learning bukan sekedar belajar di dalam suatu kelompok. Terdapat perbedaan yang signifikasn antara kooperatif learning dengan pembelajaran kelompok yaitu pembagian anggota kelompok yang dianggap asal-asalan pada pembelajaran kelompok. Sedangkan dalam pembelajaran kooperatif learning dalam pelaksanaannya melihat segi homogen sehingga guru dapat mengelola kelas menjadi lebih efektif.[5]

Roger dan David Johnson, yang dikutip oleh Agus Suprijono mengatakan bahwa tidak semua kerja sama bisa dianggap pembelajaran kooperatif.[6] Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model pembelajaran kooperatif harus diterapkan. Lima unsur tersebut adalah:

1) Positive interdependence (saling ketergantungan)

2) Personal responsibility (tanggung jawab perseorangan)

3) Face to face promotive interaction (interaksi promotif)

4) Interpersonal skill ( komunikasi antar anggota)

5) Group processing ( pemrosesan kelompok / evaluasi).

Pembelajaran Matematika di kelas, belajar menggunakan kerja kelompok  merupakan kerja yg kooperatif bukan kompetitif, meskipun pada suatu keadaan spesifik, hal tadi bisa terjadi. pada kegiatan ini sekelompok peserta didik belajar dengan tugas utama yaitu mendiskusikan tugas-tugas yang diberikan oleh gurunya, saling membantu merampungkan tugas atau memecahkan duduk perkara, termasuk mengemukakan pendapatnya yang dapat dipahami anggota lain sebagai akibatnya anggota tersebut dapat menaikkan kemampuan dirinya.

Ada beberapa ahli yang meneliti masalah tutor sebaya diantaranya, adalah Edward L. Dejnozken dan David E. Kopel dalam American Education Encyclopedia menyebutkan pengertian tutor sebaya adalah sebagai berikut:

Tutor sebaya adalah sebuah model pembelajaran yang mana peserta didik mengajar peserta didik lainnya. Ada dua tipe peserta didik mengajar peserta didik lainnya, tipe pertama adalah pengajar dan pembelajar dari usia yang sama dan tipe kedua adalah pengajar yang lebih tua usianya dari pembelajar.[7]

 Muntasir   dalam   bukunya   pengajaran   terprogram   mengemukakan   bahwa   tutor berfungsi sebagai tukang atau pelaksana mengajar, cara mengajarnya telah disiapkan secara khusus dan terperinci. Fungsi lainnya adalah dengan adanya tutor sebaya peserta didik yang kurang aktif menjadi aktif karena tidak malu lagi untuk bertanya dan mengeluarkan pendapat secara bebas, sebagaimana diungkapkan oleh M. Saleh Muntasir bahwa dengan pergaulan antara para tutor  dengan  murid-muridya  mereka  dapat  mewujudkan apa  yang terpendam dalam hatinya, dan khayalannya. Jadi, sistem pengajaran dengan tutor sebaya akan membantu peserta didik yang kurang mampu atau kurang cepat menerima pelajaran dari gurunya. Kegiatan tutor sebaya bagi peserta didik merupakan kegiatan yang kaya akan pengalaman yang sebenarnya merupakan kebutuhan peserta didik itu sendiri. Tutor maupun yang ditutori sama-sama diuntungkan, bagi tutor akan mendapat pengalaman, sedang yang ditutori akan lebih kreatif dalam menerima pelajaran.

Tutor sebaya adalah suatu pembelajaran yang jadi murid dan yang jadi guru adalah teman sebaya kita atau umurnya itu sebaya. Selain itu ada juga pengertian lain,

Tutor sebaya merupakan siswa pada kelas tertentu yg mempunyai kemampuan di atas rata-homogen anggotanya yang mempunyai tugas membantu kesulitan anggota untuk memahami materi pelajaran yang diberikan. Jika umumnya pengajar artinya lebih tua   dan  muridnya lebih muda. Menggunakan model tutor sebaya dibutuhkan setiap anggota lebih simpel serta leluasa dalam memberikan permasalahan yang dihadapi, sehingga peserta didik yang bersangkutan bisa terpacu semangatnya untuk menelaah bahan ajar menggunakan baik. sebab menggunakan bantuan teman sebaya dapat menghilangkan kecanggungan, bahasa teman sebaya lebih mudah dipahami.[8]

Menurut  Hisyam  Zaini  mengatakan  bahwa  metode  belajar  yang paling baik  adalah dengan mengajarkan kepada orang lain. Oleh karena itu, pemilihan model pembelajaran tutor sebaya sebagai strategi pembelajaran akan sangat membantu peserta didik di dalam mengajarkan materi kepada teman-temannya[9]

Adapun menurut Dedi Supriyadi yang dikutip Antonius, tutor sebaya adalah seorang atau beberapa orang peserta didik yang ditunjuk dan ditugaskan untuk membantu peserta didik  yang  mengalami  kesulitan  belajar.  Tutor  tersebut  diambil  dari  kelompok  yang prestasinya lebih tinggi

Dengan teman sebaya tidak ada rasa enggan, rendah hati, malu untuk bertanya ataupun minta bantuan. Adapun kriteria dari seorang tutor yaitu sebagai berikut:

1)  Memiliki kemampuan akademis di atas rata-rata peserta didik satu kelas.

2)  Mampu menjalin kerja sama dengan sesama peserta didik.

3)  Memiliki motivasi tinggi untuk meraih prestasi akademis yang baik.

4)  Memiliki sikap toleransi dan tenggang rasa dengan sesama.

5)  Memiliki  motivasi  tinggi  untuk  menjadikan  kelompok  diskusinya  sebagai  yang terbaik.

6)  Bersikap rendah hati, pemberani, dan bertanggung jawab, dan

7)  Suka membantu sesamanya yang mengalami kesulitan[10]

 Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa Model pembelajaran tutor sebaya  adalah  model  pembelajaran  dimana  siswa  peserta  didik  yang  sudah  faham  atau mengerti lalau mengajarkannya kepada peserta didik lainnya.

[1] Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. (Jakarta: Prestasi Pustaka, Cet. 1. hlm. 42

[2] Mutadi.  Pendekatan Efektif Dalam Pembelajaran Matematika. Semarang: Balai Diklat Keagamaan, hlm. 35

[3] Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. (Jakarta: Prestasi Pustaka, Cet. 1. hlm. 41

[4] Melvin L. Silberman. 2004. Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung: Nusamedia kerjasama

Penerbit Nuans, Cet.1, hlm.31

[5] Agus Supijono. 2009. Cooperative Learning Teori & Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka

Pelajar, Cet. I. hlm. 58

[6] Ibid., hlm. 60

[7] http://smkswadayatmg.wordpress.com/2007/09/27/penerapan-metode-tutor-sebaya-dalam-upaya- mengoptimalkan-pemebelajaran-mata-pelajaran-kkpi/

[8] Sawali        Suhesetya,        “Diskusi        Kelompok        Terbimbing        Metode        Tutor        Sebaya”,

http://sawali.info/2007/12/29/diskusi-kelompok-terbimbing-tutor-sebaya/hlm. 2

[9] Suyitno, Amin. 2007. Pemilihan Model-Model Pembelajaran dan Penerapannya di SMP.

Semarang: Jurusan Matematika FMIPA UNNES.  6

[10] Suhesetya, Sawali. “Diskusi Kelompok Terbimbing Metode Tutor Sebaya”, http://sawali.info/2007/12/29/diskusi-kelompok-terbimbing-tutor-sebaya/

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!