Langkah-langkah Pemecahan Masalah

Langkah-Langkah Pemecahan Masalah

Kemampuan pemecahan masalah merupakan kemampuan yang tidak mudah dicapai, akan tetapi oleh karena kepentingan dan kegunaannya maka kemampuan pemecahan masalah ini hendaknya diajarkan kepada siswa pada semua tingkatan. Berkaitan dengan hal ini, Ruseffendi (1991b) mengemukakan beberapa alasan soal-soal tipe pemecahan masalah diberikan kepada siswa,

(1) Dapat menimbulkan keingintahuan dan adanya motivasi, menumbuhkan sifat kreatif.

(2) Disamping memiliki pengetahuan dan keterampilan (berhitung dan lain-lain), disyaratkan adanya kemampuan untuk terampil membaca dan membuat pernyataan yang benar;

(3) Dapat menimbulkan jawaban yang asli, baru, khas, dan beraneka ragam, serta dapat menambah pengetahuan baru;

(4) Dapat meningkatkan aplikasi dari ilmu pengetahuan yang sudah diperolehnya;

(5) Mengajak siswa memiliki prosedur pemecahan masalah, mampu membuat analisis dan sintesis, dan dituntut untuk membuat evaluasi tehadap hasil pemecahannya;

(6) Merupakan kegiatan yang penting  bagi siswa yang melibatkan bukan saja satu bidang studi tetapi mungkin bidang atau pelajaran lain.

Cara memecahkan masalah dikemukakan oleh beberapa ahli, di antaranya Dewey dan Polya. Dewey (dalam Rothstein dan Pamela 1990) memberikan lima langkah utama dalam memecahkan masalah,

1)   Mengenali/menyajikan masalah: tidak diperlukan strategi pemecahan masalah jika bukan merupakan masalah;

2)   Mendefinisikan masalah: strategi pemecahan masalah menekan-kan pentingnya definisi masalah guna menentukan banyaknya kemungkinan penyelesian;

3)   Mengembangkan beberapa hipote-sis: hipotesis adalah alternatif penyelesaian dari pemecahan masalah;

4) Menguji beberapa hipotesis: mengevaluasi kele-mahan dan kelebihan hipotesis;

5)   Memilih hipotesis yang terbaik.

Sebagaimana Dewey, Polya (1985) pun menguraikan proses yang dapat dilakukan pada setiap langkah pemecahan masalah. Proses tersebut terangkum dalam empat  langkah berikut:

1) Memahami masalah (understanding the problem).

2) Merencanakan penyelesaian (devising a plan).

3) Melaksanakan rencana (carrying out the plan).

4) Memeriksa proses dan hasil (looking back).

Selain itu, W.Gula (2004) juga menjelaskan prosedur penyelesaian sebagai berikut:

1)   Mendefinisikan masalah: merumuskan masalah.

2)   Mendiagnosis masalah: memikirkan sebab-sebab timbulnya masalah.

3)   Merumuskan alternative strategi: mencari dan menemukan berbagai alternative tentang cara menyelesaikan masalah, untuk itu kelompok atau individu harus kreatif berpikir secara diverden, memahami pertentangan diantara berbagai ide, dan memiliki daya temu yang tinggi.

4)   Menentukan dan menerapkan strategi.

5)   Mengevaluasi keberhasilan strategi.

Dari langkah-langkah pemecahan masalah yang telah dikemukakan diatas, penulis merumuskan bahwa untuk menilai ranah pemecahan masalah tersebut, berarti menilai kompetensi dalam memahami masalah, merencanakan strategi penyelesaian, melaksanakan rencana penyelesaian, dan memeriksa kembali jawaban. Sehingga menurut Polya (dalam Made Wena, 2009: 56) mengajukan empat langkah yang dapat ditempuh dalam pemecahan masalah yaitu: (1) memahami masalah, (2) merencanakan masalah, (3) ,menyelesaikan masalah, (4) memeriksa kembali hasil. Selanjutnya, Polya (dalam Wina Sanjaya, 2007: 215) mengemukakan proses yang dapat dilakukan pada tiap langkah pemecahan masalah melalui beberapa pertanyaan berikut ini:

(1) Langkah memahami masalah (Understanding the problem)

Untuk memahami masalah yang dihadapi, siswa harus memahami/membaca masalah secara verbal. Kemudian permasalahan tersebut kita lihat lebih rinci:

  1. Apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan? Data apa yang diketahui? Bagaimana kondisi soal?
  2. Buat diagram dan berikan notasi yang sesuai?
  3. Pisahkan berbagai dari kondisi soal?

Langkah-langkah ini sangat penting dilakukan sebagai tahap awal dari pemecahan maslah agar siswa dapat dengan mudah dalam mencapai penyelesaian masalah yang diajukan. Siswa diharapkan dapat memahami kondisi soal atau masalah yang meliputi: mengenali soal, menganalisa soal, dan menerjemahkan informasi yang diketahui dan ditanyakan pada soal tersebut.

(2) Langkah perencanaan pemecahan masalah (divising a plan)

Pada langkah perencanaan pemecahan masalah, perlu diperhatikan hal-hal berikut:

  1. Tentukan hubungan antara data dengan yang tidak diketahui.
  2. Pernahkah melihat kondisi tersebut sebelumnya?

Masalah perencanaan ini penting untuk dilakukan karena pada saat siswa mampu membuat suatu hubungan dari data yang diketahui dan yang tidak diketahui maka siswa dapat menyelesaikan dari pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya. Pada tahap ini siharapkan menggunakan persamaan atau aturan untuk rencana yang diperoleh.

(3) Menyelesaikan masalah

  1. Jalankan rencana yang telah dibuat
  2. Apakah dapat dilihat bahwa masing-masing langkah tersebut benar? Dapatkah dibuktikan bahwa langkah tersebut benar?

      Langkah-langkah perhitungan ini penting dilakukan karena pada langkah ini dapat terlihat bahwa siswa paham dan tidak pahamnya terhadap suau masalah, disamping itu dapat melihat apakah siswa dapat menilai selesai yang dibuatnya atau belum sudah benar atau belum. Pada tahap ini siswa telah siap untuk melakukan perhitungan dengan segala macam yang diperlukan termasuk konsep dan rumus yang sesuai. Siswa harus dapat membentuk sistematika yang lebih baku dalam arti rumus-rumus yang akan digunakan merupakan rumus yang siap untuk digunakan sesuai dengan apa yang ditanyakan pada soal hingga menjurus pada rencana pemecahannya.

(4) Memeriksa kembali hasil dan menyimpulkan jawaban

Langkah yang terakhir adalah memeriksa kebenaran hasil yang diperoleh kemudian menyimpulkan jawaban dari permasalahan. Jika perlu dapatkah dicari dengan cara atau hasil yang mungkin berbeda dengan cara atau hasil yang telah ada, selanjutnya jika ada jawaban lain, apakah kesemua jawaban itu benar dan apa hubungan atara jawaban tersebut.

Jika disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika adalah suatu kemampuan dalam mengolah informasi, pengetahuan dan keterampilan yang meliputi kemampuan dalam memahami masalah, merencanakan strategi penyelesaian, melaksanakan rencana penyelesaian, dan memeriksa kembali jawaban yang digunakan dalam mengerjakan suatu pertanyaan matematika yang tidak dapat diselesaikan langsung. Dan pada akhirnya, merupakan salah satu cara untuk mendorong peserta didik untuk menggunakan pikiran secara kreatif dan bekerja secara intensif untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya.

Referensi

Ruseffendi,E.T (1991b). Penilaian Pendidikan dan Hasil Belajar Siswa Khususnya dalam Pengajaran Matematika untuk Guru dan Calon Guru. Bandung: Tidak diterbitkan

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!