MODEL PEMBELAJARAN ARTIKULASI MENURUT PARA AHLI

Dalam prakteknya di lingkungan pendidikan, Model pembelajaran artikulasi merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran cooperative learning. Hal ini dikarenakan model artikulasi dalam aplikasinya menjadikan peserta didik menjadi beberapa kelompok kecil. Sehingga sebelum penulis menjelaskan tentang model pembelajaran artikulasi akan dikenalkan terlebih dahulu model pembelajaran cooperative learning.

Cooperative mengandung pengertian bekerja bersama dalam mencapai tujuan bersama. Dalam kegiatan kooperatif peserta didik secara individual mencari hasil yang menguntungkan bagi seluruh anggota kelompoknya. Pada dasarnya cooperative learning mengandung pengertian sebagai suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja sama atau membantu sesama dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih dimana keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri. Cooperative learning juga dapat diartikan sebagai suatu struktur tugas bersama dalam suasana kebersamaan diantara sesama anggota kelompok (Etin Solihatin dan Raharjo, 2007).

Cooperative learning lebih dari sekedar belajar kelompok atau kelompok kerja, karena belajar dalam model cooperative learning harus ada “struktur dorongan dan tugas yang bersifat kooeratif” sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan-hubungan yang bersifat interdependensi yang efektif diantara anggota kelompok. Disamping itu, pola hubungan seperti itu memungkinkan timbulnya persepsi yang positif tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk berhasi berdasarkan kemampuan dirinya secara individual dan sumbangsih dari anggota lainnya selama mereka belajar secara bersama-sama dalam kelompok. Stahl mengatakan bahwa model pembelajaran cooperative learning menempatkan siswa sebagai bagian dari suatu system kerja sama dalam mencapai suatu hasil yang optimal dalam belajar. Model pembelajaran ini berangkat dari asumsi mendasar dalam kehidupan masyarakat, yaitu “getting better together”. Atau “raihlah yang lebih baik secara bersama-sama”. Aplikasinya di dalam pembelajaran di kelas, model pembelajaran ini mengetengahkan realita kehidupan masyarakat yang dirasakan dan dialami oleh mahasiswa dalam kesehariannya, dengan bentuk yang disederhanakan dalam kehidupan kelas (Etin Solihatin dan Raharjo, 2007).

Berangkat dari pengertian tentang Model cooperative learning yang baru dijelaskan diatas dilanjutkan mengenai Model Artikulasi sebagai berikut:
Artikulasi atau articulate, terjemahan dalam kamus diartikan sebagai hal yang nyata, sesuatu yang benar diajarkan. Ujaran atau ucapannya benar menurut pembentukan pola ucapan setiap bunyi bahasa untuk membentuk kata. Istilah artikulasi digunakan di lapangan dengan tidak dipermasalahkan, yang paling penting pelayanannya bisa dilakukan efektif kepada anak dengan tujuan agar upaya latihan ucapan dapat meningkatkan kekayaan dan kemampuan berbahasa anak. Kaitannya pelaksanaan latihan/pembelajaran, artikulasi diartikan sebagai upaya agar anak pandai mengucapkan/mengajarkan kata-kata menjadi jelas pola ucapannya(Edja Sadjaah: 2003). Artikulasi adalah apa yang kita definisikan sebagai struktur-struktur dalam otak yang melibatkan kemampuan berbicara , membaca atau pemrosesan kata lainnya dan area gerak tambahan(Win Wenger, 2004:104). Ada juga tokoh yang berpendapat bahwa artikulasi merupakan gerakan-gerakan otot bicara yang digunakan untuk mengucapkan lambang-lambang bunyi bahasa yang sesuai dengan pola-pola yang standar sehingga dapat dipahami oleh orang lain.

Dalam arti khusus Dra. Tati Hernawati, M.Pd menjelaskan bahwa Pembelajaran artikulasi dapat diaksanakan melalui beberapa pendekatan yaitu pendekatan individu maupun kelompok serta pendekatan khusus/formal maupun umum/informal. Pembelajaran artikulasi melalui pendekatan individu yaitu melatih anak seorang demi seorang oleh guru artikulasi di ruang khusus. Sedangkan pendekatan kelompok yaitu melatih artikulasi dua orang anak atau lebih yang dapat dilaksanakan di ruang khusus atau di kelas. Pendekatan khusus/formal adalah pelaksanaan latihan artikulasi secara khusus atau formal di ruang khusus, serta memiliki program untuk masing-masing anak. Sedangkan pendekatan umum/informal, merupakan pelaksanaan latihan artikulasi yang terintegrasi dalam pembelajaran mata pelajaran lainnya, dalam kegiatan berkomunikasi di lingkungan sekolah. maupun dalam latihan di rumah, yang sifatnya adalah membetulkan ucapan (speech correction).

Prinsip inilah yang digunakan dalam Model Pembelajaran artikulasi yakni model yang prosesnya seperti pesan berantai, artinya apa yang telah diberikan Guru, seorang siswa wajib meneruskan menjelaskannya pada siswa lain (pasangan kelompoknya). Di sinilah keunikan model pembelajaran ini. Siswa dituntut untuk bisa berperan sebagai ‘penerima pesan’ sekaligus berperan sebagai‘penyampai pesan.’

Model pembelajaran artikulasi merupakan model pembelajaran yang menuntut siswa aktif dalam pembelajaran dimana siswa dibentuk menjadi kelompok kecil yang masing-masing siswa dalam kelompok tersebut mempunyai tugas mewawancarai teman kelompoknya tentang materi yang baru dibahas. Konsep pemahaman sangat diperlukan dalam mode pembelajaran ini.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!