Mari Mengenal Ki Hajar Dewantara

Raden Mas Soewardi Soerjaningrat adalah nama semula dari Ki Hajar Dewantara. Ia dilahirkan di Ngajogjakarta Hadingrat (Yogyakarta) pada hari Kamis Legi, tanggal 2 Mei 1889, sebagai putera keempat dari pangeran Soerjaningrat, dan sebagai cucu Sri Paku Alam III. Itu berarti Soewardi Suoerjaningrat berasal dari keluarga Pakualaman. Banyak enghargaan yang diperoleh Ki Hajar Dewantara. Hari kelahirannya (2 Mei) dijadikan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ia juga ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional melalui surat keputusan Presiden RI No. 305 tahun 1959. Penghargaan lain yang diterimanya adalah Doctor Honoris Causa (Cr. H. C) dari Universitas Gadja Mada pada tahun 1957, dua tahun sebelum meninggal (26 April 1959). Namanya juga diabadikan sebagai salah satu nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya pernah diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah. Semboyannya yang terkenal ialah tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sung tulada (di depan memberi teladan). Bagian depan dari semboyannya, tut wuri handayani, menjadi slogan .Departemen Pendidikan Nasional.

loading…


Pelaksanaan kurikulum di setiap satuan pendidikan digunakan Sistim Among. Pencantuman semboyan Tut Wuri Handayani dalam logo Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) adalah bentuk formal pengakuan pemerintah terhadap Sistim Among. Pengakuan semboyan Tut Wuri Handayani dituangkan dalam SK Mendikbud, 6 September, 1977, Nomor 0398/H/1977.
Konteks pembelajaran nilai Pamong hendaknya tampil sebagai figur yang patut di teladani. Ketika berada di depan kelas ia menjadi teladan bagi anak-anak didiknya (Ing ngarso sung tulodo), keteladanan Tutwuri Handayani, selain di lingkungan sekolah, dalam lingkungan keluarga khususnya orang tua juga harus berusaha untuk mampu menciptakan lingkungan yang harmonis sesuai Tut Wuri Handayani. Ini merupakan pelaksanaan Tri Pusat Pendidikan (Suparno. 2012).

Salah satu nilai luhur bangsa Indonesia yang merupakan falsafah peninggalan Ki Hadjar Dewantara yang dapat diterapkan yakni tringa yang meliputi ngerti, ngrasa, dan nglakoni. Ki Hadjar mengingatkan, bahwa terhadap segala ajaran hidup, cita-cita hidup yang kita anut diperlukan pengertian, kesadaran dan kesungguhan pelaksanaannya. Tahu dan mengerti saja tidak cukup, kalau tidak merasakan menyadari, dan tidak ada artinya kalau tidak melaksanakan dan tidak memperjuangkannya. Merasa saja dengan tidak pengertian dan tidak melaksanakan, menjalankan tanpa kesadaran dan tanpa pengertian tidak akan membawa hasil. Sebab itu prasyarat bagi peserta tiap perjuangan cita-cita, ia harus tahu, mengerti apa maksudnya, apa tujuannya. Ia harus merasa dan sadar akan arti dan cita-cita itu dan merasa pula perlunya bagi dirinya dan bagi masyarakat, dan harus mengamalkan perjuangan itu. “Ilmu tanpa amal seperti pohon kayu yang tidak berbuah”, “Ngelmu tanpa laku kothong”, laku tanpa ngelmu cupet”. Ilmu tanpa perbuatan adalah kosong, perbuatan tanpa ilmu pincang. Oleh sebab itu, agar tidak kosong ilmu harus dengan perbuatan, agar tidak pincang perbuatan harus dengan ilmu.

 

 

 

Sumber:

Muhammad Nur Wangid

Yoyok SUmargono

Kristi Wardani

Intan Ayu Eko Putri

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!