Definisi Antropologi Pendidikan Lengkap

ANTROPOLOGI PENDIDIKAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan anak didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Namun sayangnya perkembangan dunia pendidikan di Indonesia saat ini begitu memprihatinkan. Kondisi ini mendorong munculnya pemikiran untuk melihat dan meninjau kembali kebijakan dalam sistem pendidikan yang sudah ada. Pendidikan yang semula diharapkan dapat menghasilkan anak didik yang tidak hanya cerdas dan terlatih secara ketrampilan tapi juga memiliki kepribadian serta sikap yang baik. Sikap dan kepribadian yang baik dari anak didik tidak hanya dilakukan di lingkungan sekolah saja tapi dari lingkungan sekitar anak didik. Dengan demikian perlu adanya kesadaran dalam memperbaiki sikap dan kepribadian anak didik.
Antropologi adalah suatu studi yang mempelajari tentang perilaku, kepribadian manusia serta dapat memahami tentang berbagai keanekaragaman manusia. Muncul kesadaran bahwa antropologi pendidikan sangat penting dalam menelaah masyarakat Indonesia yang sedang berkembang maka antropologi pendidikan menempati tempat yang penting dalam mengkaji dan memahami lebih dalam dunia antropologi.
Oleh karena itu perlu mengetahui dan memahami tentang antropologi pendidikan yang dianjurkan untuk mendapatkan pengetahuan yang menunjang perkembangan ilmu tentang sikap dan kepribadian dan aplikasinya dalam kehidupan baik sebagai mahluk individu maupun sebagai mahluk bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

1.2 Rumusan Masalah:
1. Bagaimana pengertian antropologi, pendidikan dan antropologi pendidikan?
2. Bagaimana Manfaat antropologi dalam pendidikan?
3. Bagaimana implikasi antropologi pendidikan?
4. Apa pengaruh antropologi terhadap lingkungan dan masyarakat?
1.3 Tujuan:
1. Menjelaskan pengertian antropologi , pendidikan dan antropologi pendidikan
2. Menjelaskan manfaat antropologi dalam pendidikan
3. Menjelaskan implikasi antropologi pendidikan
4. Menjelaskan pengaruh antropologi terhadap lingkungan dan masyarakat

BAB II
PEMBAHASAN

1.1. Pengertian Antropologi dan Pendidikan
Pengertian antropologi, merupakan perspektif ilmiah yang pada awalnya masih diperdebatkan. Hal ini disebabkan ada yang meragukan apakah antropologi itu ilmu pengetahuan atau bukan?. Antropologi pendidikan adalah ilmu sosial yang awalnya dipermasalahkan. Antropologi pendekatannya diperoleh dari sifat yang komprehensif , sehingga antropologi adalah ilmu sosial yang membahas tentang kondisi manusia. Sedangkan antropologi budaya merupakan ilmu sosial yang memahami dan menjelaskan kehidupan manusia, dan perilaku mania serta budi dayanya yang masih memerlukan pembuktian dengan penelitian ilmiah.
Antropologi dapat dipandang ilmiah karena kajiannya meliputi pengetahuan yang sistematis dan dapat dipercaya secara universal dan dilaksanakan secara empiris. Para antropolog masa kini memandang antropologi sebagai ilmu pengetahuan , sehingga metode yang digunakan juga metode yang bisa menemukan bahwa antropologi itu benar-benar ilmiah. Selain itu para antropolog juga menerima konsep Popper bahwa keberulangan penelitian antropologi semakin menunjukkan keilmiahannya.
Berdasarkan pendapat para antropolog, sejak zaman Yunani, Renaissance, ilmuwan dari Eropa semua tergolong sebagai pendorong terbentuknya antropologi. Kapan antropologi di Eropa? Antropologi, lahir di Eropa sekitar abad 18, namun baru abad 19 semakin jelas bahwa antropologi sebagai cabang keilmuan. Ditandai dengan adanya evolusi manusia berkembang. Selanjutnya berkembang di universitas, museum dan kantor pemerintahan.
Bicara tentang antropologi tidak jauh berbeda dengan kebudayaan. Adapun konsep kebudayaan sendiri artikan berbeda-beda. Harton dan Hunt mendefinisikan kebudayaan sebagai sesuatu yang dipelajari dan dialami bersama secara sosial. Kebudayaan dapat diwariskan dan dapat pula diperbaharui. Jika pada masa yang akan datang, muncul kebudayaan yang lebih baik dari kebudayaan sebelumnya, maka kebudayaan yang lama Ian ditinggalkan, begitu pula sebaliknya. Jika kebudayaan lama ternyata lebih baik, maka kebudayaan baru yang ditinggal, hal ini semua tergantung pada perilaku kebudayaan yang terbentuk secara beraturan dan terus menerus.
Secara umum, Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya, serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia. Sedangkan Antropologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan analisis berdasarkan konsep-konsep dan pendekatan Antropologi. (Nasution, 2004).
Sebagai cabang ilmu termuda di antara ilmu-ilmu sosial lainnya, Antropologi telah melampaui ilmu sosial lainnya dalam rentangan subjek matter dan metodologi. Antropolog menghubungkan semua aspek terhadap kebudayaan sebagai satu keseluruhan yang mengkaji semua kebudayaan baik lampau maupun sekarang, sederhana ataupun maju. Antropolog menyadarkan kita akan keragaman kebudayaan umat manusia dan pengaruh yang dalam dari pendidikan (cultural conditional) terhadap perilaku dan kepribadian manusia. (Nasution, 2004).
Antropologi pendidikan berusaha menjelaskan situasi perubahan budaya atau pewarisan pengetahuan melalui enkulturasi dan sosialisasi. Di samping itu, pemahaman dari ilmu antropologi pendidikan, seperti peran pendidikan formal dan informal disebut sebagai kegiatan belajar individu sebagai cerminan kegiatan sosial budaya. (Nasution, 2004).
Sosialisasi kebudayaan yang dilakukan melalui pendidikan informal sesungguhnya dapat dilaksanakan melalui proses enkulturasi semenjak kecil di dalam lingkungan keluarga. Lebih lanjut lagi dalam lingkungan bermasyarakat yang begitu kompleks, terspesialisasi dan berubah drastis, sehingga dalam hal ini pendidikan memiliki fungsi yang signifikan dalam memahami kebudayaan sebagai satu keseluruhan.
Kontribusi utama yang bisa diberikan antropologi terhadap pendidikan menurut G.D. Spindler adalah menghimpun sejumlah pengetahuan empiris yang sudah diverifikasikan dengan menganalisa aspek-aspek proses pendidikan yang berbeda-beda dalam lingkungan sosial budayanya. (Hasojo, 1984).
Kelebihan mempelajari metode pendidikan kebudayaan maka antropologi bermanfaat bagi pendidikan. Karena kebudayaan yang ada dan berkembang dalam masyarakat bersifat unik dan sukar untuk dibandingkan. Setiap penyelidikan yang dilakukan oleh para ilmuwan akan memberikan sumbangan yang berharga dan mempengaruhi pendidikan.
Semakin cepatnya perubahan kebudayaan, maka makin banyak diperlukan waktu untuk memahami kebudayaannya sendiri. Hal ini membuat kebudayaan di masa depan tidak dapat diramalkan secara pasti, sehingga dalam mempelajari kebudayaan baru diperlukan metode baru untuk mempelajarinya. Dalam hal ini pendidik dan antropolog harus saling bekerja sama, dimana keduanya sama-sama memiliki peran yang penting dan saling berhubungan. Pendidikan bersifat konservatif yang bertujuan mengekalkan hasil-hasil prestasi kebudayaan, yang dilakukan oleh pemuda-pemudi sehingga dapat menyesuaikan diri pada kejadian-kejadian yang dapat diantisipasikan di dalam dan di luar kebudayaan serta merintis jalan untuk melakukan perubahan terhadap kebudayaan. (Hasojo, 1984).
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi.
Pendidikan, sebagai suatu usaha yang dilakukan dengan sadar untuk membentuk manusia seutuhnya, belum lengkap bila hanya dibayangkan sekedar sebagai upaya dua jalur saja personalisasi dan sosialisasi. Setiap manusia hidup dalam suatu lingkungan budaya dan oleh karenanya, setiap pendidikan juga berlangsung dalam suatu lingkungan budaya. Oleh sebab itu, jelas bahwa setiap upaya pendidikan harus meliputi usaha pembudayaan subjeknya. Karena kebudayaan itu mengandung sistem nilai yang selanjutnya tampil dalam perilaku normatif warganya, maka pendidikan juga tidak bisa bebas nilai.
Ada perumusan yang menyatakan bahwa pendidikan itu ialah ikhtisar”pengalihan nilai-nilai budaya” (transmission of cultural value) demi terpeliharanya kesinambungan masyarakat yang bersangkutan sehingga pendidikan merupakan ikhtisar dengan dimensi kultural (Soedirjanto, 2003).

1.2. Manfaat Antropologi dan Pendidikan
Manusia memiliki perbedaan dalam tiap kehidupannya, sehingga perlu seorang pendidik mempelajari latar belakang siswa seperti keluarga, budaya dan lingkungannya. Oleh sebab itu, antropologi hadir sebagai landasan dalam pendidikan.
Antropologi dalam pendidikan memiliki beberapa manfaat diantaranya :
1) Dapat mengetahui pola perilaku manusia dalam kehidupan bermasyarakat secara universal maupun pola perilaku manusia pada tiap-tiap masyarakat (suku bangsa).
2) Dapat mengetahui kedudukan serta peran yang harus kita lakukan sesuai dengan harapan warga masyarakat dari kedudukan yang kita sandang.
3) Dengan mempelajari antropologi akan memperluas wawasan kita terhadap tata pergaulan umat manusia di seluruh dunia, khususnya Indonesia yang mempunyai kekhususan-kekhususan yang sesuai dengan karakteristik daerahnya, sehingga menimbulkan toleransi yang tinggi.
4) Dapat mengetahui berbagai macam problema dalam masyarakat serta memiliki kepekaan terhadap kondisi-kondisi dalam masyarakat, baik yang menyenangkan serta mampu mengambil inisiatif terhadap pemecahan permasalahan yang muncul dalam lingkungan masyarakatnya. (Koentjaraningrat, 1990).

1.3. Pendidikan dalam Perspektif Antropologi
Antropologi Pendidikan sebagai disiplin ilmu, kini banyak dikembangkan oleh para ahli yang menyadari pentingnya kajian budaya pada suatu masyarakat. Antropologi di negara-negara maju memandang salah satu persoalan pembangunan di negara berkembang adalah karena masalah budaya belajar. Kajian budaya belajar kini menjadi perhatian yang semakin menarik, khususnya bagi para pemikir pendidikan di perguruan tinggi. Perhatian ini dilakukan dengan melihat kenyataan lemahnya mutu sumber daya manusia yang berakibat terhadap rentannya ketahanan sosial budaya masyarakat dalam menghadapi krisis kehidupan. (Hasojo, 1984).
Teori antropologi pendidikan yang diorientasikan pada perubahan sosial budaya dikategorikan menjadi empat orientasi, yaitu :
1) Orientasi teoritik yang fokus perhatiannya kepada keseimbangan secara statis. Teori ini merupakan bagian dari teori-teori evolusi dan sejarah.
2) Orientasi teori yang memandang adanya keseimbangan budaya secara dinamis. Teori ini yang menjadi penyempurna teori sebelumnya, yakni orientasi adaptasi dan tekno-ekonomi yang menjadi andalannya.
3) Orientasi teori yang melihat adanya pertentangan budaya yang statis, dimana sumber teori datang dari rumpun teori struktural.
4) Orientasi teori yang bermuatan pertentangan budaya yang bersifat global atas gejala interdependensi antar Negara, dimana teori multikultural termasuk di dalamnya. (Hasojo, 1984).

1.4. Implikasi Antropologi Pendidikan
Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam implikasi antropologi, adalah sebagai berikut : (Koentjaraningrat, 1990).
1) Identifikasi kebutuhan belajar masyarakat
Identifikasi kebutuhan masyarakat ini bersumber dari informasi masyarakat sekitar. Masyarakat tersebut terdiri dari tokoh masyarakat, baik secara formal maupun informal, tokoh agama, dan perwakilan masyarakat kelas bawah. Hal ini bertujuan untuk memperoleh informasi dan data yang dijadikan bahan pengembangan kurikulum.
2) Keterlibatan partisipasi masyarakat
Setelah mengidentifikasi kebutuhan belajar, maka masyarakat ikut serta dalam merancang kurikulum, menyediakan sarana dan prasarana, menentukan narasumber sebagai fasilitator, dan ikut menilai hasil belajar.
3) Pemberian pendidikan kecakapan hidup
Pendidikan kecakapan hidup merupakan pendidikan dalam bentuk pemberian keterampilan dan kemampuan dasar pendukung fungsional, membaca, menulis, berhitung, memecahkan masalah, mengelola sumber daya, bekerja dalam kelompok, dan menggunakan teknologi. (Koentjaraningrat, 1990).

1.5. Pengaruh Antropologi terhadap Lingkungan dan Masyarakat
Studi antropologi selain untuk kepentingan pengembangan ilmu itu sendiri, di negara-negara yang telah membangun sangat diperlukan bagi pembuatan-pembuatan kebijakan dalam rangka pembangunan dan pengembangan masyarakat. (Koentjaraningrat, 1990).
Perbedaan geografis mencakup perbedaan-perbedaan yang disebabkan oleh faktor geografis seperti letak daerah, misalnya : pantai, daerah pegunungan, daerah tropis, daerah sub tropis, daerah subur, daerah tandus, dan sebagainya. (Nasution, 2004).
Sebagai contoh, pengaruh daerah sub tropis terhadap pola kerja manusia akan berbeda dengan daerah tropis. Pada daerah sub tropis ada musim dimana manusia kurang atau tidak dapat bekerja secara penuh, terutama pada musim dingin, sehingga keadaan ini memaksa manusia daerah sub tropis untuk mempersiapkan cadangan makanan untuk musim dingin. Demikian pula masyarakat di daerah gersang akan terpaksa bekerja lebih keras untuk mempertahankan hidupnya dibandingkan dengan daerah subur. (Nasution, 2004).
Perbedaan-perbedaan tersebut melahirkan pula perbedaan kebudayaan, baik dalam wujud ide-ide, pola, tingkah laku maupun kebudayaan. Di daerah subur seperti di Indonesia, dimana manusia tidak perlu berjuang keras untuk mempertahankan hidupnya, dimana sumber-sumber alam relatif mudah diambil, membuat manusia juga bermurah hati terhadap sesamanya, sehingga bila ada seorang warga masyarakat yang mengalami kekurangan, orang laain dapat dengan mudahnya membantu orang yang menderita tersebut. Karena itu terutama di pedesaan, dimana kebutuhan hidup dari alam sekitar relatif lebih mudah didapatkan, perasaan gotong-royong antar warga masyarakat sangat tinggi. Sebaliknya di daerah perkotaan dimana manusia harus berusaha lebih keras untuk mempertahankan hidupnya, maka perasaan gotong-royong itu makin menipis, dan perasaan individualitasnya lebih tinggi. (Nasution, 2004).

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Antropologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan manusia dan perilakunya serta memperoleh definisi keanekaragaman manusia. Sedangkan Antropologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang mencoba memahami persoalan masalah-masalah yang terkait dengan pendidikan berdasarkan konsep dan pendekatan antropologi.
Secara garis besar manfaat antropologi pendidikan adalah mengetahui pola perilaku manusia, mengetahui kedudukan manusia terhadap peran di masyarakat, memperluas wawasan pergaulan manusia, mengetahui berbagai macam masalah dan kondisi di dalam masyarakat.
Implikasi antropologi diantaranya identifikasi kebutuhan belajar masyarakat, keterlibatan partisipasi masyarakat dan pemberian pendidikan kecakapan hidup.
Pengaruh antropologi dalam pendidikan meliputi: perbedaan kebudayaan , perbedaan pola tingkah laku dan perbedaan ide dalam mempelajari pengetahuan.

 

A, Soedijarto M. 2003. Pendidikan Nasional sebagai Proses Transformasi Budaya.  Jakarta: Balai Pustaka.

Hasojo. (1984). Pengantar Antropologi. Bandung : Bina Cipta.

http://zulfahsmile.blogspot.co.id/2015/01/pendekatan-antropologi-dalam-mengkaji.html

Koentjaraningrat. (1990). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Rineka Cipta.

Nasution. (2004). Antropologi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara

Ruminiati. (2016). Sosio Antropologi Pendidikan Suatu Kajian Multikultural. Malang: Gunung Samudra

 

Related Searching:

Makalah Pendidikan Antropologi

Definisi Antropologi Pendidikan

Makalah Pendidikan Kebudayaan

Pendidikan dalam Persepektif Kebudayaan

makalah antropologi pendidikan

buku antropologi pendidikan

kegunaan antropologi pendidikan

dasar antropologi pendidikan

manfaat antropologi pendidikan

antropologi pendidikan pdf

ruang lingkup antropologi pendidikan

tujuan antropologi pendidikan

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!