Pengertian Metode Problem Solving Terlengkap Menurut Ahli

Max A. Sobel dan Evan M. Maletsky (2002: 60) mengatakan dalam bukunya bahwa pada permulaan dekade 1980-an, National Council of Teachers of Mathematics (NCTM) menerbitkan sebuah buku berjudul An Agenda for Action: Recommendations for School Mathematics of the 1980s. Rekomendasi pertamanya yang mendapat perhatian dan sambutan yang sangat luas adalah:

1) Pemecahan masalah harus menjadi fokus pada pembelajaran matematika di sekolah
2) Pemecahan masalah seharusnya menjadi fokus utama dari kurikulum matematika
Kemudian ditambahkan NCTM yang dikutip oleh Turmudi (2009:29), pembelajaran matematika yang efektif perlu pemahaman apa yang siswa ketahui, perlu pelajari, kemudian tantangan dan dukungan terhadap mereka untuk mempelajarinya secara baik. Ini merupakan salah satu prinsip yang disodorkan oleh Principles and Standards for School Mathematics. Problem solving (pemecahan masalah) merupakan suatu aktivitas dasar bagi manusia (Hudojo, 2005: 127).

Seorang psikolog dari University of Winconsin, Denney mengatakan sebagaimana yang dikutip oleh Eric Jensen (2008: 298), Problem Solving (pemecahan masalah) bagi otak manusia sama seperti latihan aerobik bagi tubuh. Ia menciptakan ledakan aktivitas virtual, menyebabkan pembentukan sinapsis, mengaktifkan neurotransmitter, dan meningkatkan aliran darah.
Cooney et.al sebagaimana yang dikutip oleh Herman Hudojo (2005: 130), mengajar siswa untuk menyelesaikan masalah-masalah memungkinkan siswa itu menjadi analitik dalam mengambil keputusan di dalam kehidupan. Dengan kata lain, bila seorang siswa yang sering dilatih untuk menyelesaikan masalah ataupun soal yang dihadapinya, maka siswa itu akan mampu mengambil keputusan. Hal ini dikarenakan siswa tersebut mempunyai keterampilan tentang bagaimana mengumpulkan informasi yang relevan, menganalisis informasi dan menyadari betapa perlunya meneliti kembali hasil yang telah diperolehnya.
Menurut Anita E. Woolfolk dkk (2004: 282) dalam bukunya mengatakan “Problem solving is a creat new solutions for problems” pemecahan masalah adalah solusi baru untuk sebuah masalah. Selain itu menurut Gagne seperti yang dikutip oleh E. Mulyasa (2008: 111), kalau seorang peserta didik dihadapkan pada suatu masalah, pada akhirnya mereka bukan hanya sekedar memecahkan masalah, tetapi juga belajar sesuatu yang baru. Menerapkan dan mengenalkan metode pembelajaran problem solving kepada siswa merupakan kegiatan dari seorang guru dimana guru itu membangkitkan siswa-siswanya agar menerima dan merespon pertanyaan-pertanyaan yang diajukan olehnya dan kemudian ia mem- bimbing siswa-siswanya untuk sampai kepada penyelesaian masalah (Hudojo, 2005: 129). Di dalam menyelesaikan masalah, siswa diharapkan memahami proses penyelesaian masalah tersebut dan menjadi terampil dalam memilih dan mengidentifikasikan kondisi dan konsep yang relevan, mencari generalisasi, merumuskan rencana penyelesaian dan mengorganisasikan keterampilan yang telah dimiliki sebelumnya.
Metode pembelajaran problem solving sangat cocok apabila diterapkan pada pembelajaran matematika, karena matematika sangat berhubungan erat dengan metode pembelajaran ini. Hal ini juga diperkuat oleh Turmudi (2009: 29), dalam bukunya ia mengatakan bahwa metode pembelajaran problem solving dalam pembelajaran matematika merupakan bagian tak terpisahkan dalam pembelajaran matematika, perlu memperoleh perhatian serius bagi para guru.
Metode pembelajaran problem solving (pemecahan masalah) bukan hanya metode sekedar metode pembelajaran yang digunakan pada saat proses belajar mengajar saja, tetapi metode ini juga merupakan suatu metode berfikir.
Permasalahan dalam metode pembelajaran problem solving ini dapat diajukan atau diberikan oleh guru kemudian diselesaikan oleh siswa, dari siswa kemudian diselesaikan bersama oleh guru ataupun dari siswa sendiri dan kemudian dijadikan pembahasan pada saat proses pembelajaran dan kemudian dicari pemecahannya (Heriawan,
2012: 93).

Dalam pemecahan masalah-masalah baru yang dihadapi, diperlukan kesanggupan untuk berpikir. Oleh sebab itu, sudah sewajarnya sekolah turut bertanggung jawab mempersiapkan siswa dengan menggunakan metode pembelajaran problem solving (pemecahan masalah) dalam proses pembelajarannya di berbagai mata pelajaran khususnya pelajaran matematika (Ahmadi, 2005: 74).

Metode pembelajaran problem solving merupakan suatu metode pembelajaran yang memusatkan kegiatan pembelajaran pada siswa, karena disini guru hanya sebagai fasilitator dan pembimbing. Berbeda dengan metode pembelajaran ceramah, yang memusatkan pem- belajaran hanya pada guru sehingga siswa menjadi pasif.
Metode pembelajaran problem solving memegang peranan penting baik dalam pelajaran sains maupun dalam banyak hal disiplin ilmu lainnya, karena metode pembelajaran ini bisa mengkondisikan proses pembelajaran berjalan dengan fleksibel.
Berikut merupakan langkah-langkah yang harus dicapai dalam memecahkan masalah menurut John Dewey sebagaimana yang dikutip oleh Ahmadi (2005: 74):
1) Menyadari adanya masalah

Problem, kesulitan merupakan sesuatu yang dapat menimbulkan beberapa pertanyaan dalam pikiran kita sehingga kita merasa bimbang.
2) Memahami hakekat masalah dengan jelas

Ketegasan dan kejelasan rumusan masalah merupakan syarat untuk memecahkan masalah secara efisien.
3) Mengajukan hipotesis

Hipotesis memberi arah kepada kita dalam mencari bahan keterangan guna memecahkan masalah. Agar masalah dapat diselesaikan dengan efektif, hipotesis itu harus pula dirumuska dengan sejelas mungkin.
4) Mengumpulkan data

Untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis.

5) Analisis dan sintesis data

Bahan yang dikumpulkan harus ditinjau dan dianalisa secara kritis dengan melihat hubungannya dengan pemecahan masalahnya.

6) Mengambil kesimpulan

Berdasarkan data yang telah dikumpulkan dan dianalisis secara secara kritis dapat diuji kebenaran hipotesis.
7) Mencoba dan menerapkan kesimpulan

Kebenaran kesimpulan bukan hanya berupa hasil pemikiran, melainkan harus pula dibuktikan kebenarannya di dalam perbuatan.
8) Mengevaluasi seluruh proses pemecahan masalah

loading…


Akhirnya peninjauan kembali keseluruhan proses berpikir dari awal sampai akhir. Davis Alexander mengatakan sebagaimana yang dikutip oleh E. Mulyasa (2008: 298) langkah-langkah metode pembelajaran problem solving (pemecahan masalah) sebagai suatu seri, yang meliputi: sensing potensial problems, formulating problem, search for solution, trade-off among solution and initial selection, implementation and evaluation. Berdasarkan hal tersebut, pembelajaran dengan metode problem solving (pemecahan masalah) akan menempuh langkah-langkah sebagai berikut:
1) Merasakan adanya masalah-masalah yang potensal;

2) Merumuskan masalah;

3) Mencari jalan keluar;

4) Memilih jalan keluar yang paling tepat;

5) Melaksanakan pemecahan masalah;

6) Menilai apakah pemecahan yang dilakukan sudah tepat atau belum.

Hamzah B. Uno dan Nurdin Mohamad (2012: 223) mengatakan dalam bukunya bahwa metode pembelajaran problem solving terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:
1) Klarifikasi Masalah
Merupakan suatu kegiatan dimana guru memberikan penjelasan kepada siswa tentang masalah yang diajukan, sehingga siswa dapat memahami tentang masalah-masalah atau soal-soal yang mereka hadapi. Pengungkapan pendapat pada tahap ini yaitu siswa dibebaskan untuk mengungkapkan pendapat tentang berbagai macam strategi penyelesaian masalah.
2) Evaluasi dan Pemilihan
Pada tahap evaluasi dan pemilihan ini siswa diminta untuk menentukan strategi mana yang cocok digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut.
3) Implementasi
Pada tahap ini siswa diminta untuk menerapkan strategi yang telah ditentukan untuk melakukan pemecahan masalah.
Hudojo dan Sutawijaya mengungkapkan sebagaimana yang dikutip oleh Herman Hudojo (2005: 138), petunjuk langkah-langkah sistematik di dalam metode pembelajaran problem solving adalah sebagai berikut:
1) Pemahaman terhadap masalah

Bagaimana cara memahami masalahnya yaitu:

a) Bacalah masalah atau soal tersebut secara berulang kali sampai siswa memahaminya dan mampu mendefinisikan masalah tersebut;
b) Identifikasikan dan deskripsikan apa yang diketahui dari masalah tersebut;
c) Sajikanlah masalah tersebut secara matematik agar mudah dipahami;
d) Abaikan hal-hal yang tidak relevan dengan permasalahan;

e) Jangan menambahkan hal-hal yang tidak ada sehingga masalahnya menjadi berbeda sengan masalah yang kita hadapi.
2) Perencanaan penyelesaian masalah

Dalam merencanakan penyelesaian masalah ataupun soal-soal, ada banyak rencana yang dapat digunakan. Rencana yang dimaksud pada tahap ini yaitu rencana yang nantinya akan digunakan pada saat proses penyelesaian masalah atau soal-soal. Siswa akan mulai menyusun langkah-langkah apa yang digunakan dalam menyelesaikan masalah atau soal-soal tersebut. Seperti yang dikemukakan oleh Wheeler (1992), stategi penyelesaian masalah antara lain sebagai berikut:

a) Membuat suatu tabel;

b) Membuat suatu gambar;

c) Mencari pola;

d) Menggunakan penalaran;

e) Menggunakan rumus; dan lain-lain.

Dalam tahap ini siswa diminta untuk mengorgainisi dan menganalisis data dan informasi relevan yang diperoleh untuk menyelesaikan masalah serta memilih dan menentukan strategi penyelesaian masalah.
3) Melaksanakan perencanaan penyelesaian masalah

Langkah ini merupakan kegiatan dimana siswa mulai menggunakan strategi yang telah ditentukan dan direncanakan sebelumnya untuk meyelesaikan masalah atau soal-soal. Menyelesaikan masalah memerlukan waktu yang berkelanjutan. Kecuali bila siswa menggunakan strategi yang tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dalam menyelesaikan, siswa memerlukan penalarannya untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang ada.
4) Melihat kembali penyelesaian

Melihat kembali penyelesaian merupakan langkah terahir. Yaitu setelah siswa selesai menyelesaikan soal-soal tersebut dengan strategi yang telah direncanakan, kemudian siswa mereview ulang proses penyelesaian soal. Tahapan ini berfungsi untuk mengetahui apakah langkah-langkahnya sudah benar atau belum. Selain itu pada tahap ini juga siswa diminta untuk mencari adakah strategi lain yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah dan membuat generalisasi atau kesimpulan dari hasil penyelesaian yang diperoleh.
Dari beberapa penjelasan diatas ada berbagai macam langkah- langkah di dalam pelaksanaan metode pembelajaran problem solving. Adapun dalam penelitian ini, peneliti menggunakan langkah-langkah pembelajaran dengan merujuk kepada langkah-langkah pembelajaran menurut Hudojo dan Sutawijaya (1996) seperti yang dikutip oleh Hudojo (2005) yaitu sebagai berikut:

1) Menunjukan pemahaman masalah

2) Merencanakan penyelesaian masalah

3) Melaksanakan perencanaan penyelesaian masalah

4) Melihat kembali penyelesaian

Setiap metode pembelajaran pasti mempunyai kelebihan ataupun kekurangan disbanding metode pembelajaran lainnya. Begitu pula dengan metode pembelajaran problem solving (pemecahan masalah), metode pembelajaran ini juga mempunyai kelebihan dan kekurangan seperti yang dikemukakan oleh Adang Heriawan dkk (2012: 97). Kelebihan metode pembelajaran problem solving yaitu sebagai berikut:
1) Membuat pendidikan di sekolah menjadi lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dengan dunia kerja
2) Proses belajar mengajar melalui pemecahan masalah dapat membiasakan para siswa menghadapi dan memecahkan masalah dengan terampil, apabila menghadapi permasalahan dalam kehidupan keluarga, bermasyarakat dan bekerja kelak, suatu kemampuan yang sangat bermakna bagi kehidupan manusia
3) Merangsang pengembangan kemampuan berpikir siswa
secara kreatif dan menyeluruh, karena dalam proses belajarnya siswa banyak melakukan proses mental degan menyorot pada permasalahan dari berbagai segi dalam rangka mencari proses dan pemecahannya

Berikut kekurangan metode pembelajaran problem solving (pemecahan masalah):

1) Menentukan suatu masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tingkat berpikir siswa memerlukan kemampuan dan keterampilan guru
2) Proses belajar mengajar dengan metode pembelajaran ini
sering memerlukan waktu yang cukup bayak (lama)
3) Mengubah kebiasaan siswa belajar dengan mendengarkan dan menerima informasi dari guru menjadi belajar dengan banyak berpikir memecahkan permasalahan sendiri, yang kadang- kadang memerlukan berbagai sumber belajar merupakan kesulitan tersendiri bagi siswa

4) Bagi siswa yang tidak terbiasa menghadapi masalah akan mengalami kesulitan untuk memahami masalah yang ditugaskan kepadanya
Dari beberapa pendapat yang telah dikemukakan di atas, maka dapat disimpulakan bahwa metode pembelajaran problem solving (pemecahan masalah) adalah suatu cara belajar yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran dengan menggunakan masalah atau soal sebagai titik tolak pembahasan sehingga siswa mampu memahami soal yang dihadapi, kemudian siswa merencanakan penyelesaian masalah, setelah itu melaksanakan perencanaan penyelesaian msasalah dan yang terakhir melihat kembali proses penyelesaian masalah.
Dijelaskan juga pada dokumen Peraturan Dirjen Dikdasmen No. 506/C/PP/2004 (Depdiknas, 2004), bahwa pemecahan masalah merupakan kompetensi strategik yang ditunjukkan siswa dalam memahami, memilih pendekatan dan strategi pemecahan masalah, dan menyelesaikan model untuk menyelesaikan masalah. Indikator yang menunjukkan pemecahan masalah sebagaimana yang dikutip oleh Shadiq (2009:14) adalah sebagai berikut:
1) Memahami masalah

2) Menyajikan masalah secara matematika dalam berbagai bentuk.

3) Mengorganisasi data dan memilih informasi yang relevan dalam pemecahan masalah
4) Memilih pendekatan dan strategi pemecahan masalah secara tepat

5) Mengembangkan strategi pemecahan masalah

6) Membuat dan menafsirkan model matematika dari suatu masalah

7) Menyelesaikan masalah yang tidak rutin

Namun pada penelitian kali ini peneliti menggunakan empat indikator dari yang diungkapkan oleh Depdiknas 2004 dan sisanya diambil dari kegiatan yang ada di dalam langkah-lagkah proses pelaksanaan metode pembelajaran problem solving, yaitusebagai berikut:
1) Memahami masalah

2) Menyajikan masalah secara matematika dalam berbagai bentuk

3) Mengorganisasi data dan memilih informasi yang relevan dalam pemecahan masalah
4) Memilih pendekatan dan strategi pemecahan masalah secara tepat

5) Melaksanakan penyelesaian masalah

6) Menggunakan strategi dalam penyelesaian masalah

7) Mengevaluasi hasil penyelesaian

8) Membuat kesimpulan serta mengembangkan strategi penyelesaian masalah
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan empat sub variabel yaitu: 1) menunjukan pemahan masalah dengan indikator memahami masalah dan menyajikan masalah secara matematika dalam berbagai bentuk; 2) merencanakan penyelesaian masalah dengan indikator mengorganisasi data dan memilih informasi yang relevan dalam pemecahan masalah dan memilih pendekatan dan strategi pemecahan masalah secara tepat; 3) penyelesaian masalah dengan indikator melaksanakan penyelesaian masalah dan menggunakan strategi dalam penyelesaian masalah; 4) melihat kembali penyelesaian dengan indikator mengevaluasi hasil penyelesaian dan membuat kesimpulan serta mengembangkan strategi penyelesaian masalah.

 

Referensi:

Turmudi. 2009. Landasan Filosofis dan Teoritis Pembelajaran Matematika: Berparadigma   Eksploratif   dan   Investigatif.   Jakarta:   PT.   Leuser   Citra Pustaka

Hudojo,    Herman.    2005.    Pengembangan    Kurikulum    dan    Pembelajaran Matematika. Malang: Universitas Negeri Malang

Woolfolk,  Anita  E,  Philip  H.  Winne  &  Nancy  E.  Perry.  2012.  Education Psycology. New Jersy: Pearson Education

Mulyasa, E. 2008. Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset

Heriawan, Adang dkk. 2012. Metodologi Pembelajaran  Kajian Teoritis Praktis: Model, Pendekatan, Strategi, Metode dan Teknik Pelajaran. Banten: LP3G

Ahmadi, Abu & Joko Tri Prestyo. 2005. SMB: Strategi Belajar Mengajar (untuk Fakultas Tarbiyah Komponen MKDK). Bandung: CV Pustaka

Shadiq, Fadjar. 2009. Kemahiran Matematika. Yogyakarta: Direktorat Jenderal Peningkatan  Mutu  Pendidikan  dan Tenaga  Kependidikan  PPPPTK Matematika

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!